Keesokan harinya, setelah menghubungi Andy untuk menjemput, Vana dan Shella duduk berdua di teras rumah.
“Cepat banget sih pulangnya?” keluh Shella.
Vana terkekeh. “Terus kamu mau aku di sini sampai kapan?”
Shella terdiam sejenak sebelum bertanya, “Na… kamu sama Rino gimana?”
Vana menatap Shella heran. “Gimana apanya?”
“Ya itu… kedekatan kalian.”
“Siapa yang dekat?” sangkal Vana cepat, sebab ia memang tidak merasa dekat dengan Rino.
Shella berdecak. “Udahlah, Na, kenapa nggak dicoba aja? Siapa tahu cocok,” ujar Shella yang tak henti-hentinya mendorong Vana untuk membuka hati.
“Nggak,” jawab Vana tegas.
Pada saat yang sama, Andy tiba. Setelah berpamitan kepada orang tua Shella, Vana dan Andy pun beranjak pulang.
***
Baru saja melangkah masuk ke kamarnya, ponsel Vana berdering.
Rino, batin Vana mendesah pelan saat melihat nama yang tertera di layar. Karena merasa tidak enak jika menolak, Vana pun mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
“Halo, Na. Lagi ngapain?” tanya Rino di ujung telepon.
“Baru nyampe dari rumah Shella.”
“Yah, kalau baru pulang berarti nggak boleh keluar lagi, dong?”
“Kenapa?”
“Nggak, tadinya gue mau ngajak keluar. Tapi susah, ya, kan lo baru pulang.”
“Kapan-kapan aja, ya, Rino. Emang mau ke mana?”
“Ya belum tahu sih mau ke mana, muter-muter aja paling, hehe. Eh btw, sorry ya, gue nyimpen kontak lo nggak izin dulu.”
“Nggak apa-apa.”
“Yakin nggak apa-apa?”
“Iya, nggak masalah.”
“Bagus deh. Tapi kalau gue chat, jangan nggak dibalas, ya.”
“Rino, udah dulu ya. Gue dipanggil Mama,” ucap Vana terpaksa berbohong untuk mengakhiri percakapan.
Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 pagi. Setelah sarapan dan mandi, seperti hari Minggu pada umumnya, Vana tidak memiliki kegiatan khusus selain membantu Andy dan Fenny menyelesaikan pekerjaan rumah.
Di kamarnya, Vana mengambil sebuah buku kosong dan menatap lembaran putih itu dengan bingung.
Mau dimulai dari mana, ya? gumamnya dalam hati. Semakin ke sini, bukannya mendapat petunjuk, Vana justru merasa langkahnya kian menemui jalan buntu.
“Ana…”
Vana menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu, berdiri Arka—adiknya yang berusia 10 tahun—dengan kertas bergambar di tangannya.
“Bantu warnain,” ucap Arka singkat, lalu mengambil posisi duduk di atas kasur Vana.
Vana mendekat dan memperhatikan kertas tersebut. Itu adalah buku mewarnai khusus anak-anak. Vana kembali merenung; betapa kreatifnya orang-orang dalam berkarya. Mereka selalu punya ide untuk mengisi kertas kosong yang mereka miliki berbeda dengan dirinya yang bahkan ragu meski hanya untuk membuat satu titik kecil di atas kertas miliknya.