Simfoni Waktu dan Rasa

KAMISRIATI LEVI GAYATRI
Chapter #9

Bagian 09

Sore harinya, Vana meminta izin kepada orang tuanya untuk berkunjung ke rumah Erik, tak lupa mengajak Shella. Vana menjemput Shella dengan mengendarai sepeda motor, kemudian keduanya langsung pergi ke tempat Erik.

“Hai, Vana, Shella,” sapa Rina, Mama Erik, ketika membukakan pintu.

Rina mempersilakan kedua gadis itu duduk di kursi ruang tamu dan segera memanggil Erik.

Tak lama kemudian, orang yang dimaksud pun tiba.

“Hai, ada apa? Tumben,” ucap Erik sembari mengambil tempat duduk berhadapan dengan Vana dan Shella.

“Emang kalian doang yang boleh main ke tempatku?” tanya Vana, membuat Erik terkekeh.

Vana mengambil ponselnya. Dengan ekspresi yang terlihat bahagia, ia menggeser-geser layar ponselnya, membuat Erik dan Shella saling tatap sembari tersenyum heran.

“Nih,” ucap Vana menunjukkan layar ponselnya pertama-tama kepada Shella yang duduk di sampingnya.

“Apa?” tanya Shella dengan wajah polos, membuat Vana berdecak.

“Baca lah,” ujar Vana kesal.

Erik menggelengkan kepala. Secara perlahan ia bangkit, beralih duduk di kursi sebelah Vana, dan mengambil ponsel itu untuk melihatnya. “Kamu lulus?”

Vana menganggukkan kepalanya.

“Kamu lulus?” tanya Shella tak kalah excited. Shella langsung memeluk Vana erat, membuat Vana yang tidak suka kontak fisik merasa risi.

“Ih,” ucap Vana sambil melepaskan pelukan Shella.

Erik menatap Vana datar, membuat Vana bertanya, “Kenapa?”

Erik meletakkan ponsel Vana di meja di hadapan mereka, lalu kembali menatap Vana serius. “Jurusan filsafat?” tanya Erik.

Vana kembali mengangguk.

Erik tersenyum, kemudian bertanya, “Filsafat tuh apa sih?”

“Sebentar,” ujar Vana yang langsung bergerak ingin meraih ponselnya, tetapi kalah cepat dari Erik yang lebih dulu mengambil benda pipih itu.

“Menurut kamu aja,” ucap Erik begitu ponsel Vana sudah berpindah ke tangannya. Ia tahu persis, Vana pasti akan langsung mencarinya di internet.

“Aku juga sudah lihat kok,” bela Vana.

“Ya, apa?” pancing Erik lagi.

“Jadi, filsafat itu semacam ilmu—bukan ilmu juga sih, tapi ya memang ilmu,” jawab Vana ragu-ragu.

“Apa sih, Na,” potong Shella.

“Kamu diam dulu,” balas Vana.

Erik dibuat terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Lanjut,” ucapnya.

“Intinya yang aku ingat—” Ucapan Vana kembali terpotong.

“Aku mau tahu menurut kamu, bukan apa yang kamu ingat dari kalimat orang lain,” potong Erik cepat.

“Oke. Jadi, filsafat itu cara berpikir yang kritis banget. Berpikir serius, mencari jawaban, dan kebenaran dari banyak hal,” ucap Vana menjawab dengan caranya sendiri.

Erik menganggukkan kepala pelan. “Contohnya?”

Lihat selengkapnya