Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari di bulan Agustus tiba, dua hari sebelum Vana merantau untuk menuntut ilmu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah daerah setempat menggelar berbagai perlombaan untuk memeriahkan HUT RI yang pada 2021 itu memasuki usia ke-76.
Setelah kurang lebih seminggu rangkaian lomba berlangsung meriah, hari terakhir ditutup dengan panjat pinang. Vana, Erik, dan Shella turut menyaksikan riuhnya acara tersebut. Usai gelaran selesai, ketiganya tidak langsung pulang, melainkan memilih jalan-jalan sore ke danau yang terletak di desa mereka.
Tiba di sana, ketiga sahabat itu memilih duduk di salah satu dermaga tepi danau. Tempat itu merupakan salah satu lokasi favorit Vana dan Shella semasa sekolah. Kedua gadis itu langsung bersemangat menceritakan berbagai kenangan masa sekolah kepada Erik. Sesekali mereka saling menyela karena terlalu antusias mengingat kejadian-kejadian kecil yang kocak.
Sementara itu, Erik hanya diam. Ia lebih banyak mendengarkan sambil memperhatikan kedua sahabatnya. Ada rasa gemas melihat betapa bahagianya Vana dan Shella saat mengenang masa-masa yang mereka lalui bersama. Namun, di tengah obrolan, Shella mendadak terdiam. Perubahan ekspresinya membuat Vana dan Erik menoleh.
"Kenapa, Shell?" tanya Vana.
Shella menundukkan kepala. "Setelah ini aku enggak punya teman jalan-jalan dong kalau kamu pergi," ujarnya lirih.
Ucapan itu seketika melenyapkan senyum Vana. Ia ikut terdiam, membayangkan betapa sepinya hari-hari mereka setelah ia pergi nanti.
Melihat suasana mendadak murung, Erik mengambil alih percakapan untuk mencairkan suasana. "Hmm... ternyata aku enggak dianggap," celotehnya sambil melirik Vana dan Shella dengan nada mengejek.
"Kamu enggak asyik. Pasti nanti enggak bakalan mau kalau aku ajak jalan-jalan," rengek Shella.
Vana terkekeh mendengarnya. "Kalau dia enggak mau, kasih tahu aku."
Erik spontan menoleh. "Kenapa kalau kamu tahu?" tanyanya.
"Biar aku marahin."
"Emang kamu bisa marahin aku?" balas Erik dengan nada tengil.
"Bisalah!" Vana menunjuk Erik, seolah memberi peringatan. "Pokoknya, selama enggak ada aku, kamu harus selalu turutin apa yang Shella mau."
Erik tertawa kecil. "Siap, Ibu!"
Guraun itu memecah kecanggokan dan mengundang tawa ketiganya.
Sore itu mereka habiskan bersama—berbincang tentang banyak hal, mengingat kenangan lama, dan tertawa seolah tidak ada perpisahan yang menanti. Di hadapan mereka, matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahaya jingga menyelimuti permukaan danau, menciptakan pemandangan yang seolah sengaja diabadikan untuk kebersamaan mereka. Mungkin, setelah hari ini, momen seperti ini akan makin jarang dinikmati bersama. Sebentar lagi, takdir akan membawa langkah mereka ke jalan masing-masing.
***
Malam harinya, suasana rumah Vana terasa lebih ramai daripada biasanya. Di dapur, Vana sibuk memasak, sementara Shella beberapa kali mondar-mandir sambil mengganggunya. Erik lebih banyak duduk di ruang tengah, sesekali ikut menyahut setiap kali kedua temannya itu mulai berdebat.
“Na, ayamnya jangan sampai gosong, dong. Aku sudah lapar dari tadi nih,” keluh Shella.
“Kalau takut gosong, bantuin napa!” balas Vana.
“Kan aku tamu.”
Erik yang mendengar dari ruang tengah langsung tertawa. “Makanya, Shella. Jangan banyak komentar kalau nggak mau disuruh kerja!”
Shella menoleh tajam. “Kamu juga sama saja. Dari tadi duduk-duduk terus!”