Simfoni Waktu dan Rasa

KAMISRIATI LEVI GAYATRI
Chapter #11

Bagian 11

Hari yang paling dihindari Vana akhirnya tiba.

Hari ini ia harus pergi—meninggalkan kamar yang bertahun-tahun menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya, meninggalkan sudut kampung halaman yang familier, serta meninggalkan sahabat-sahabat terbaiknya.

Sejak subuh, rumah sudah riuh oleh kesibukan. Andy, Fenny, dan Arka sibuk memastikan koper serta barang bawaan tidak ada yang tertinggal.

Berbeda dari yang lain, Vana justru lebih banyak berdiam diri. Gadis itu duduk terpaku menatap layar ponselnya. Jam menunjukkan pukul 05.40 WIB. Waktu keberangkatan kian mendesak, tetapi notifikasi dari Shella maupun Erik tak kunjung muncul. Vana masih menaruh harapan kedua sahabatnya akan datang melepas kepergiannya. Namun, waktu tak pernah sudi menanti.

"Vana, ayo Nak, siap-siap. Kita jalan sekarang," panggil Fenny.

Vana mendongak. Matanya menyiratkan rasa berat yang mendalam. "Tunggu sebentar lagi ya, Ma... tunggu Shella sama Erik."

Fenny mendekati putrinya lalu mengelus bahunya lembut. "Nanti kan bisa telepon dari jalan. Kita harus berangkat sekarang supaya enggak terjebak macet," bujuk Fenny halus.

Vana terdiam. Ada desakan di dadanya untuk menawar waktu, tetapi ia tahu perkataan mamanya benar. Perjalanan jauh menanti dan mereka tidak mungkin menundanya demi sesuatu yang belum pasti.

Dengan berat hati, Vana memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia bangkit, menarik napas panjang, lalu melangkah keluar. Sebelum masuk ke mobil, Vana menoleh ke arah halaman rumah untuk terakhir kalinya. Hampa. Tidak ada Erik, tidak ada Shella.

Vana akhirnya pergi tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan secara langsung. Dan entah mengapa, ganjalan kecil itulah yang membuat langkahnya terasa jauh lebih berat.

***

Gue bakalan telat nemuin Vana! gumam Erik seraya menarik tuas gas motornya dalam-dalam.

"Om Dito!" panggil Erik terengah-engah begitu menghentikan motornya di depan rumah Vana. Dito, adik dari Andy sekaligus paman Vana, memang sudah akrab dengan Erik dan Shella.

"Erik..." sapa Dito kaget.

"Vana mana, Om?" tanya Erik memotong cepat.

"Vana udah berangkat. Tadi dia sebenarnya nungguin kalian cukup lama."

Erik terpaku. Rasa penyesalan langsung merayapi dadanya. Ia bergegas merogoh ponsel untuk menghubungi Vana, tetapi nomor gadis itu sudah tidak aktif. Dengan jemari gemetar, Erik mengetikkan sebuah pesan singkat via WhatsApp.

 

Erik

Maaf, Na. aku telat.

Hati-hati dijalan.

Lihat selengkapnya