Simfoni Waktu dan Rasa

KAMISRIATI LEVI GAYATRI
Chapter #12

Bagian 12

Malam itu, segalanya terasa begitu berbeda. Pemandangannya, suasananya, bahkan udara yang berhembus menyentuh kulit terasa asing. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tetapi kelopak mata Vana masih enggan terpejam, seolah menolak rasa tidak nyaman di tempat yang serba baru ini.

Vana membalikkan badannya ke sisi kiri, menghadap Fenny yang tengah terlelap di sampingnya. Besok malam aku bakal tidur dan tinggal sendirian, Ma. Bisa nggak sih Mama di sini aja nemenin Vana? batin Vana merintih. Tanpa disadarinya, bulir air mata mulai menetes membasahi bantal.

Meski sebenarnya sangat takut menghadapi kesepian, mau tidak mau Vana harus mulai membiasakan diri. Ia meraih ponselnya untuk melihat kembali foto-foto serta momen kebersamaan dengan para sahabatnya. Ia bahkan sengaja menyematkan pesan-pesan lucu dari Shella agar bisa dibaca ulang saat rasa sepi mendera. Walaupun Shella sering kali membuatnya kesal, di lubuk hatinya ia akui bahwa dirinya benar-benar merasa hampa tanpa gadis tengil itu.

Vana terus saja terpaku menatap layar ponsel hingga ia sendiri tidak sadar kapan akhirnya ia jatuh tertidur.

***

Pagi harinya seperti biasa, Andy dan Fenny sibuk menyiapkan sarapan bersama, sementara Vana dan Arka masih terlelap di alam mimpi masing-masing.

"Kebanyakan nggak sih ini, Ma?" tanya Andy ragu.

Pagi-pagi buta tadi, pasangan suami istri itu telah berbelanja ke pasar tradisional terdekat. Dulu, semasa berkuliah, Andy pernah merantau di kota ini, sehingga ia masih cukup mengenali seluk-beluk kota cantik tersebut.

Hari itu mereka berencana memasak ikan kuning. Usai menanak nasi, Fenny berniat melanjutkan pekerjaan untuk merapikan barang-barang Vana di kos, sedangkan Andy bertugas memasak lauk. Saat itu, Andy merasa potongan ikan yang mereka siapkan agak terlalu banyak, mengingat mereka akan pulang siang ini dan hanya akan makan di kos pada pagi hari saja.

"Nggak apa-apa, Pa, masak aja semuanya biar Vana nggak perlu repot masak lagi sampai malam nanti," ucap Fenny.

"Tapi anak itu kan paling nggak bisa makan lauk yang sama sampai dua kali," ujar Andy mengingatkan.

Ia tahu betul kebiasaan putrinya; Vana hanya mau menyantap satu jenis lauk untuk satu kali waktu makan saja dan akan kehilangan selera jika harus memakannya berulang kali.

"Ya udah, nanti sisanya bisa dibawa pulang buat bekal," usul Fenny.

Sebab kepulangan mereka nanti akan menumpang mobil kerabat, membawa bekal makanan di dalam perjalanan tentu terasa cukup praktis dan nyaman.

***

Setelah seluruh pekerjaan selesai dan sarapan pun usai, seluruh anggota keluarga mandi bersiap untuk pulang—kecuali Vana. Di saat adik dan kedua orang tuanya sibuk berkemas, Vana hanya duduk terdiam dengan tatapan sendu di sudut ruangan, memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.

"Jangan gitu mukanya, Nak. Mama jadi nggak tega kalau harus pergi rasanya," ucap Fenny lembut.

Vana tertawa hambar untuk mencairkan suasana. "Apaan sih, Ma? Orang Vana emang masih ngantuk."

Tidak lama kemudian, kerabat Fenny datang menjemput. Setelah berpamitan dan berbasa-basi sejenak, Fenny dan Arka terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Andy masih bolak-balik memeriksa keandalan fasilitas kamar kos untuk memastikan keamanan Vana sebelum ia benar-benar bertolak.

"Ada apa lagi, Pa?" tanya Vana.

"Nggak apa-apa, Papa cuma mau ngecek, takutnya ada yang ketinggalan atau ada hal penting yang belum Papa beresin," ujar Andy.

"Udah aman kok, Pa. Gas sama kompor juga udah dimatiin kan?" ucap Vana meyakinkan.

"Kamu hati-hati sama api, jangan pernah tinggalkan kompor dalam keadaan menyala."

Vana menganggukkan kepalanya patuh.

Sama seperti Fenny, Andy menyimpan rasa berat yang sama. Meski di permukaan semuanya tampak biasa saja, jauh di dalam lubuk hati mereka, ada keengganan besar untuk berpisah—meski mereka tahu Vana tetap akan pulang berkunjung setiap beberapa bulan sekali.

Lihat selengkapnya