Hari kedua tiba. Vana kembali ke kampus dengan berjalan kaki. Sama seperti hari sebelumnya, semua kegiatan terlaksana dengan baik tanpa halangan apa pun.
Hari itu, Vana dan Rania berjanji untuk jalan-jalan sore di kampus sembari melihat-lihat para mahasiswa yang mengikuti kegiatan UKM. Setelah mengganti baju dan bersiap, pukul 16.45 Vana dan Rania mulai berjalan kaki mengelilingi kampus yang ramai.
Saat sampai di sebuah lapangan voli yang ternyata dipenuhi oleh beberapa orang yang mereka kenal, mereka diajak untuk bergabung bermain bersama. Rania menyetujui ajakan itu dan ikut bermain, sedangkan Vana tetap duduk di pinggir lapangan karena tidak bisa bermain voli.
“Kok nggak ikut main?” sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Vana.
Vana menatap orang tersebut dan langsung mengenalinya.
“Eh,” ucap Vana spontan.
“Kok ‘eh’ sih?” tanyanya heran.
“Nggak bisa main voli,” ujar Vana malu-malu.
“Ya makanya belajar,” timpal orang tersebut santai.
“Nggak dulu deh,” balas Vana menolak.
“Maba yang dari Filsafat, kan?” tanyanya lagi pada Vana.
Vana menganggukkan kepala. “Iya. Kak Elio, kan?” ujar Vana memastikan.
Elio tersenyum tipis. “Udah kenal?”
“Kan kemarin perkenalan di aula,” ucap Vana beralasan.
Elio terkekeh pelan. “Oh iya. Besok hari terakhir, masih semangat, kan?” tanya Elio.
“Masihlah,” ucap Vana mantap.
“Haruslah.” Elio mengangguk setuju.
Keduanya tertawa kecil. Di saat yang sama, seseorang memanggil nama Elio dari kejauhan. Elio lantas berpamitan untuk pergi dan meninggalkan Vana yang masih setia menunggu Rania menyelesaikan permainannya.
Vana kembali memperhatikan permainan di lapangan. Tidak ada yang istimewa dari percakapan singkat tadi. Setidaknya, belum ada. Bagi Vana, Elio masih sebatas seorang kakak tingkat yang kebetulan beberapa kali ia temui sejak ospek dimulai.
Namun, tanpa disadarinya, pertemuan-pertemuan kecil seperti itulah yang perlahan akan membuat kehidupan barunya terasa semakin ramai.