Malam harinya, seperti biasa setelah membersihkan diri dan makan malam, Vana duduk di meja belajar untuk membaca ulang sekaligus mencoret-coret sedikit catatan yang ia tulis selama tiga hari mengikuti OSPEK. Saat sedang fokus, ponselnya berdering—menampilkan panggilan grup dari Erik dan Shella.
“Halo!” ujar Vana antusias saat mengangkatnya.
“Vana...” sapa Shella dari seberang.
“Apa kabar, Na?” tanya Erik.
“Kabar baik. Kalian gimana?”
“Aku baik, kamu—” Ucapan Erik mendadak dipotong Shella.
“Aku nggak! Vana, tadi Niko ngajak ceweknya ke sanggar, terus—”
Kini giliran Erik yang memotong, “Udah lah, Shell, nggak usah curhat di sini.”
Vana terkekeh. “Ini kan Rabu, kok kalian latihan?”
“Iya, soalnya mau ada penampilan dua minggu lagi,” jawab Erik.
Vana terdiam beberapa detik. “Jadi kangen latihan dan tampil nari bareng kalian.”
“Lho, emang di sana nggak ada sanggar?” sahut Shella yang langsung mendapat decakan dari Erik.
“Ada kok, tapi kayaknya aku nggak bakalan ikut.”
“Kenapa?” tanya Erik.
“Nggak apa-apa. Aku mau fokus kuliah aja.”
“Yakin tuh ngomong gitu?” celetuk Shella tiba-tiba.
“Diem deh, Shell,” tegur Erik. Terdengar suara Shella mendengkus kesal.
“Udah-udah, kalian apaan sih? Jadi selama aku tinggal, kalian ribut terus?” Suasana hening sejenak. “Oh, atau jangan-jangan kalian cuma ketemu waktu di sanggar aja?” sambung Vana.
“Males ah sama dia, nggak asik,” jawab Shella.