Malam berikutnya, setelah seharian hanya diisi kegiatan makan, tidur, dan makan lagi, Vana mengobrol dengan orang tuanya lewat telepon. Setelahnya, ia duduk di kasur sembari menonton kartun favorit di laptop ditemani camilan.
Di tengah fokusnya menonton, teringatlah ia pada Elio. Vana sadar ia sudah menyimpan nomor pemuda itu tanpa pernah menyapa. Keberaniannya mengumpul, lalu ia memutuskan mengirim pesan saat itu juga.
Vana
Save, Vana.
Elio
Vana? Dari mana dapat kontak aku?
Vana
Dari grup, sorry ya.
Elio
Nggak masalah, santai aja.
Vana
Iya.
Elio
Canggung banget ya, hehe. Btw lagi ngapain?
Vana
Nggak ngapa-ngapain.
Elio
Kamu mau keluar nggak? Kebetulan aku mau main futsal,
kalo mau nonton biar aku jemput.
Vana
Nggak, nggak usah. Aku lagi nggak mau kemana-mana.
Elio
Oke, kalo gitu aku lanjut dulu ya. Malam, Vana.
Iya lagi, kok canggung banget, padahal gue yang chat dia duluan, gumam Vana.
Sejak malam itu, Vana dan Elio mulai saling melihat status WhatsApp satu sama lain, dan hubungan keduanya perlahan menjadi kian dekat.
***
“Halo, Shel.”