Sore harinya, Vana datang ke kampus untuk berjalan-jalan santai bersama Rania.
“Kemarin jam segini kita malah mendekam di aula,” kenang Rania, membuat keduanya terkekeh bersamaan.
“Iya, eh, kita kapan mulai perkuliahannya, ya?” tanya Vana penasaran.
“Nggak tau juga nih, aku juga penasaran,” ujar Rania.
Vana terkekeh pelan. “Wajar sih, anak filsafat.”
“Maksudnya?” tanya Rania bingung.
“Hm. Eh, nonton voli yuk!” ajak Vana sengaja mengalihkan pembicaraan.
Rania tidak menjawab, dan keduanya berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud. Saat melangkah sambil memperhatikan kondisi lapangan voli yang dipenuhi orang bermain, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Vana dari arah yang berlawanan. Vana celingak-celinguk mencari sumber suara.
Rania yang melihat lebih dulu menunjuk ke suatu arah. “Itu tuh yang manggil,” ucap Rania.
Vana mengikuti arah telunjuk Rania. Seseorang yang tampak tidak asing sedang duduk di sebuah bangku kayu tidak jauh dari lapangan bola.
Vana menyipitkan matanya, berusaha mengenali sosok tersebut. “Siapa ya? Nggak jelas.”
“Ayo susul aja, temen kamu mungkin,” ajak Rania.
Keduanya berjalan mendekati orang itu. Semakin dekat jarak mereka, Vana baru sadar bahwa sosok tersebut sangat mirip dengan foto profil WhatsApp Tisa.
Tisa, bukan ya? gumam Vana, yang masih bisa didengar oleh Rania.
“Kamu kenal?” tanya Rania.
“Mirip sih,” balas Vana.
Saat mereka tiba tepat di hadapannya, Tisalah yang lebih dulu menyapa.
“Hai, akhirnya ketemu langsung juga,” sapa Tisa ramah.
“Oh, iya. Aku kira salah orang tadi,” ujar Vana.
Setelah dipersilakan duduk oleh Tisa, Vana dan Rania pun ikut duduk di bangku yang sama.
“Kamu sendiri di sini?” tanya Vana.
“Aku nunggu cowokku, tuh lagi main bola,” ujar Tisa sambil menunjuk ke arah lapangan.
Vana menoleh ke arah yang ditunjuk Tisa, tetapi matanya justru fokus pada seseorang lain yang ia kenal. Tisa yang menyadari arah pandang Vana langsung tersenyum penuh arti.
“Aku nunjuk yang itu lho, bukan yang di sebelahnya,” goda Tisa.
Vana tersenyum malu-malu. “Iya, aku liat itu juga.”
“Itu yang mana?” tanya Tisa usil.
Vana hanya tersenyum tanpa menjawab. Rania yang tidak tahu apa-apa tentu merasa heran.
“Apaan sih?” tanya Rania.
“Tanya aja sama temen kamu ini, dia liatin apa,” ujar Tisa.
“Apa sih, Sa,” gerutu Vana, membuat Tisa terkikik geli.
Sementara itu, Rania masih bingung dengan topik yang dibahas oleh mereka berdua, namun ia memilih untuk mengabaikannya. Ketiganya lantas melanjutkan kegiatan menonton para pemuda yang sedang melaksanakan latihan UKM bola tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, latihan pun selesai. Semua pemain keluar lapangan dan memilih duduk di deretan bangku yang diduduki oleh Vana dan kedua temannya.
“Widih, ada yang disamperin nih,” goda salah seorang teman tim.