"Selamat pagi!" sapa Dika, salah seorang teman sekelas Vana, ketika memasuki ruang kelas.
Hari baru, kelas baru, dan teman-teman baru. Lagi-lagi hari ini Vana mendapatkan lebih banyak teman baru, bahkan tak hanya dari satu fakultas saja.
"Si paling semangat datang!" seloroh Rania, membuat seisi kelas tertawa bersama.
Mata kuliah pertama yang akan Vana dapatkan hari itu adalah Pengantar Filsafat. Tentu Vana sangat bersemangat membahas hal yang memang sudah sejak lama membuatnya penasaran.
"Kalian ngambil filsafat karena apa?" tanya Rania kepada teman-temannya.
"Biar dosen aja yang nanya, lo nggak usah," balas Dika usil, membuat Rania merengut kesal.
Setelah sekitar lima menit berlalu, seorang dosen paruh baya memasuki ruang kelas. Beliau memperkenalkan diri sebagai Pak Harry, salah satu dosen filsafat senior di kampus itu.
Topik diawali dengan perkenalan singkat hingga akhirnya mulai memasuki inti pembahasan.
"Baik, sebelum kita tahu lebih jauh apa itu filsafat, saya mau bertanya terlebih dahulu: apa alasan Anda memilih jurusan filsafat?" Suasana hening seketika. "Ayo, siapa yang mau mengutarakan alasannya?"
Salah seorang mahasiswa mengacungkan tangan. Setelah dipersilakan oleh Pak Harry, ia berkata, "Saya suka pemikiran-pemikiran yang luas, Pak."
"Yang seperti apa?" tanya Pak Harry.
"Saya suka dengan orang-orang yang cara berpikirnya kritis, karena saya juga seperti itu. Saya memikirkan hal-hal yang bahkan saya sendiri tidak tahu alasan saya memikirkannya. Dari yang saya baca, filsafat itu artinya mencari hakikat dari sesuatu yang belum diketahui. Jadi, alasan saya memilih jurusan filsafat adalah karena saya ingin mencari tahu jawaban dari apa yang sebenarnya ingin saya ketahui," jelasnya panjang lebar.
Pak Harry mengangguk-angguk. "Bagus."
Seisi kelas memberikan tepuk tangan kepada pemuda itu.
Itu kan jawaban gue, kok diambil sama dia? sungut Vana dalam hati.
"Baik, selanjutnya..." ucap Pak Harry menggantung sembari melihat nama-nama di daftar absensi.