"Bisa serius nggak?"
Sementara itu di kota lain, Erik tengah dipusingkan oleh Shella yang sedari tadi terus saja bercanda. Keduanya kini sedang berada di tempat Erik. Tanpa alasan yang jelas, Shella datang dan meminta Erik memetik gitar untuk mengiringinya bernyanyi.
"Kamu yang nggak bener main gitarnya!" protes Shella tak terima.
"Dari tadi aku serius, Shella," tekan Erik menahan sabar.
Shella merengut kesal.
Erik berdecak. "Kamu maunya gimana? Tangan aku udah sakit ini. Dari tadi aku coba iringin, kamu bercanda terus."
"Dah lah, nggak jadi!" balas Shella cemberut.
Erik menghembuskan napas pasrah.
Tanpa menghiraukan Shella yang kesal padanya, dengan santai Erik lanjut memetik gitar dan bersenandung tanpa mengajak Shella.
"Erik!" teriak Shella kesal.
"Apa sih, Shell?" sahut Erik malas.
"Kamu kok malah nyanyi sendiri?" rengek Shella.
"Astaga... perasaan ibadah aku nggak pernah kelewatan deh, kok bisa punya temen kek kamu?" keluh Erik prihatin.
Namun kali ini Shella tak lagi marah. Ketika mendengar kata 'teman', ia teringat sesuatu.
"Eh, Rik. Kamu tau nggak?"
"Nggak," balas Erik cepat, masih sibuk dengan senar gitarnya.
"Ih, dengerin dulu!" desak Shella.
"Hm?"
"Beberapa hari yang lalu aku teleponan sama Vana..." Ucapan Shella menggantung.
"Hm, terus?"
"Ck, bisa fokus dulu nggak sih?" kesal Shella karena Erik masih terus bersenandung kecil.
"Apa, Shella?" sergah Erik, masih tak berhenti memetik gitarnya.
Shella memutar bola matanya malas, kemudian terdiam. Erik yang menyadari Shella benar-benar kesal akhirnya mengalah.
Ia berhenti memetik gitar dan menatap Shella. "Ada apa? Kenapa Vana?"
Shella menyipitkan matanya, menatap Erik serius. "Dia kayaknya punya pacar baru deh."
Erik mengernyit. "Pacar?"
Shella mengangguk pelan.
"Secepat itu?" tanya Erik lagi, tak percaya.
"Ya gimana? Bagus lah, biar dia move on," ucap Shella santai, membuat Erik menatapnya heran.
"Bagus?"
"Kenapa sih kayak nggak seneng gitu?" ujar Shella curiga.
Erik tak menjawab. Kepalanya seolah mulai memikirkan sesuatu.