Lila kembali ke dalam laboratorium layaknya seorang prajurit yang kembali pada markas musuh. Udara dingin yang steril, yang semula terasa bersih dan menenangkan bagi pikiran ilmiahnya, kini yang ia rasakan tak lebih dari udara di dalam makam. Dengungan ritmis dari rak-rak server tak lagi terdengar seperti lagu pengantar kerja; suaranya sama halnya dengan dengkuran dari seekor binatang buas yang sedang tidur. Setelah pertemuannya dengan Bayu, tempat ini tidak lagi terasa seperti pusat pengetahuan. Tempat ini terasa seperti pusat dari kejahatan.
Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Wajah Bayu yang tirus, matanya yang dipenuhi oleh paranoia dan duka yang begitu dalam, terus terbayang di benak Lila. Dirinya telah melihat dampak dari data-data di layar ayahnya, hasilnya memiliki nama serta sejarah. Ia bukanlah lagi seorang ilmuwan yang mengamati fenomena hanya dari kejauhan. Dirinya jelmaan seorang penyusup yang baru saja menatap mata korbannya.
Ayahnya, Dr. Ardian Bahari, masih berdiri di tempat yang sama, ia tak pernah bergerak. Ayahnya merupakan perwujudan konstanta di tengah-tengah kekacauan variabel yang telah ia lepaskan pada dunia. Ayahnya menatap layar utama, di mana anomali ungu berdenyut dengan ritme yang lambat dan stabil, seperti jantung kosmik.
“Kau terlalu lama,” kata Ardian tanpa menoleh. Nada bicaranya datar, tetapi sarat kekecewaan yang tajam. “Dan kau kembali dengan tangan kosong. Aku bisa merasakannya.”
Lila berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia menelan ludah, mencoba menekan amarah sekaligus rasa bersalah yang bergejolak di dalam dirinya. “Aku berbicara dengannya. Namanya Bayu.”
“Aku tidak peduli siapa namanya,” balas Ardian. “Apakah dia memilikinya?”
“Aku tidak tahu!” sergah Lila, suaranya lebih keras dari yang ia inginkan. “Aku tidak bertanya! Aku bukan mata-matamu, Ayah! Aku ilmuwan!”
Pada akhirnya Ardian menoleh. Matanya yang tajam menatap Lila dari balik kacamatanya, dingin dan analitis. “Di dalam proyek ini, kita semua menjadi apa pun yang dibutuhkan. Ilmuwan, sejarawan, dan ya, jika perlu, mata-mata. Sentimenmu mengaburkan penilaianmu, Lila.”
“Sentimenku?” Lila tertawa, tawa pahit tanpa rasa humor. “Itu yang kau sebut ‘sentimen’? Melihat seorang pria yang hancur karena desanya diteror? Seorang anak laki-laki hilang, Ayah! Lenyap! Dan parahnya kau lebih peduli pada benda tua?”
“Anak itu adalah katalisator yang diperlukan,” kata Ardian dalam ketenangan yang mengerikan. “Dan benda itu, kunci untuk mengkalibrasi fase berikutnya. Jangan mencampuradukkan tujuan akhir yang agung dengan biaya awal yang tak terhindarkan.”
“Tujuan akhir yang agung?” Lila melangkah maju, tangannya terkepal di sisinya. “Apa tujuan akhir kita sebenarnya, Ayah? Membangunkan monster laut? Merobek lubang di realitas hanya untuk melihat apa yang ada di sisi lainnya? Ini bukan sains! Ini vandalisme kosmik yang sembrono!”
“Kau terdengar persis seperti ibumu,” desis Ardian, dan kata-kata itu langsung membungkam Lila. “Ibumu juga tidak pernah mengerti. Dia melihat bintang-bintang dan melihat keindahan puitis. Aku dan kakekmu melihat mesin. Uurwerk raksasa. Setiap mesin bisa dibongkar untuk dipelajari cara kerjanya.”
“Ibu mungkin tidak mengerti caramu berpikir,” balas Lila, suaranya kini bergetar karena emosi. “Tapi dia mengerti tentang kemanusiaan. Sesuatu yang tampaknya sudah kau lupakan. Ibu tidak akan pernah menyetujui ini. Mengorbankan orang yang tidak bersalah…”