SIMPUL ARUS HITAM

IGN Indra
Chapter #21

CHAPTER 20

Kelelahan akhirnya menang. Setelah berhari-hari hidup dengan kafein, paranoia, dan bisikan-bisikan dari dunia lain, tubuh Bayu menyerah. Bayu duduk di tepi ranjangnya, menatap buku tua milik ayahnya yang terbuka di halaman diagram Astrolab. Meskipun matanya terasa panas dan berat, pikirannya masih saja tertuju pada jaring kusut dari koin VOC, spiral, suara statis, dan perdebatan sengit dengan seorang wanita yang seharusnya tak ia percayai. Ia memejamkan mata sejenak, hanya untuk mengistirahatkan otot-ototnya yang perih. Dan di dalam sekejap itu, kegelapan menariknya ke bawah.

Bayu terbangun bukan karena suara atau sentuhan, melainkan karena kesadaran yang dingin, yang datang tiba-tiba. Bahwa ada sesuatu yang sangat salah. Matanya terbuka. Ia masih berada di kamarnya, terbaring miring di atas ranjangnya. Cahaya bulan yang pucat masuk melalui jendela, memandikan ruangan dengan cahaya kelabu yang membuat seluruh benda tampak asing. Ia bisa melihat semuanya dengan detail yang anehnya jernih. Poster band menempel di dinding, tumpukan pakaian di kursi, Walkman kuning di atas meja. Semuanya normal.

Lalu, ia mencoba bergerak.

Tak ada yang terjadi.

Gelombang kepanikan sedingin es langsung menjalari dirinya. Otaknya mengirimkan perintah.

Bangun!

Duduk!

Gerakkan jarimu!

Meskipun demikian, tubuhnya tidak merespon. Dirinya telah menjadi patung daging yang hidup, seorang tahanan di dalam kerangkanya sendiri. Matanya masih mampu melesat ke sana kemari, ia bisa merasakan napasnya yang tiba-tiba menjadi dangkal dan cepat, akan tetapi ia tetap tak bisa menggerakkan satu otot pun. Kelumpuhan tidur. 

Sleep paralysis

Ia pernah membacanya, sayangnya deskripsi klinis tak pernah bisa menangkap teror yang sesungguhnya dari pengalaman itu.

Kemudian, ia mendengarnya. Suara dengungan bernada rendah, yang seolah berasal dari dalam tengkoraknya sendiri, semakin lama semakin keras. Di atasnya, terdengar suara tetesan air.

Plop…

Ia mengalihkan matanya ke atas. Di langit-langit kamarnya, tepat di atasnya, noda gelap yang mengandung tetesan air muncul, entah dari mana. Anehnya dari pusat noda itu, setetes air hitam berjatuhan ke lantai.

Plop…

Plop…

Plop –-

Noda itu mulai menyebar dengan cepat, layaknya bercak tinta di atas kertas basah. Garis-garis retakan muncul di langit-langit, dan dari retakan-retakan itu, air mulai merembes masuk. Bukanlah air yang berasal dari hujan yang jernih, melainkan air laut yang keruh serta gelap, membawa bebauan garam, alga, dan sesuatu yang lain… bau pembusukan yang samar-samar tercium.

Kepanikan Bayu meningkat menjadi teror murni. Ia ingin berteriak, tetapi pita suaranya lumpuh. Ia hanya bisa mengeluarkan erangan tertahan dari belakang tenggorokannya. Air kini tidak hanya merembes; ia mengalir turun di dinding, meninggalkan jejak-jejak gelap di atas cat yang mengelupas. Air mulai menggenang di lantai, berputar-putar di sekitar kaki-kaki ranjangnya.

Kamarnya sedang tenggelam.

Air naik dengan kecepatan yang tidak wajar. Dinginnya mulai merayap naik ke atas kasurnya, membasahi seprai di bawah punggungnya. Dengungan di kepalanya kini bercampur dengan suara gemericik air yang semakin keras. Air itu gelap dan buram, menelan semua cahaya bulan, mengubah kamarnya menjadi akuarium di malam hari. Bayu hanya sanggup untuk terus berbaring di sana, terperangkap, menyaksikan dunianya yang aman dan hangat dalam sepersekian detik saja, ditelan oleh lautan dari mimpi buruknya.

Saat air telah naik setinggi pinggangnya, sesosok figur mulai terbentuk di tengah ruangan, sesosok tubuh yang muncul dari kegelapan air seolah-olah ia bagian darinya.

Sosok itu seorang pria. Ia mengenakan kemeja nelayan yang robek lengkap dengan celana panjangnya yang basah kuyup. Wajahnya pucat dan sedikit membengkak, rambutnya yang hitam menempel di dahi dan pelipisnya.

Lihat selengkapnya