Blurb
Acara akad nikah Arif dan Hana yang sejatinya berlangsung khidmat mendadak menjadi riuh. Secara tiba-tiba mempelai pria pingsan saat mengucapkan beberapa kata dari kalimat ijab kabul.
Upaya penyelamatan telah dilakukan. Menunggu sekian lama dan waktu baik segera habis, sedangkan pengantin pria belum ada tanda-tanda akan siuman. Sebagai orang tua, Budi memutuskan menikahkan Hana dengan Ahmad.
Keputusan ini ditolak mentah-mentah. Budi beralasan pernikahan tetap harus terjadi demi nama baik semua pihak. Lagi pula, Ahamd kakak kandung Arif, jadi dia yang paling tepat untuk menggantikannya.
Perdebatan dua keluarga tak terelakkan dan Ahmad tidak bisa berkelit lagi. Mau-tidak mau dia harus menikahi Hana, meskipun mendapat penolakan dari gadis itu.
Hana merasa dikorbankan dan diperlakukan semena-mena. Hari bahagia yang dinanti selama ini dalam sekejap menjadi penuh kesialan karena dinikahi pria yang sama sekali tidak masuk kreterianya. Bayangan hari-hari suram menanti dan menari di pelupuk matanya.
Ijab kabul telah usai. Hana menolak berjabat tangan dengan Ahmad. Tanpa sepatah kata, dia meninggalkan tempat itu.
Ahmad hanya menghela napas. Dia menatap punggung istrinya yang menjauh, sebelum akhirnya juga pergi.
Seperti apa rumah tangganya dengan Hana, Ahmad juga tidak tahu. Hanya saja, sejak detik ini hidupnya berubah seiring status baru sebagai suami dari Hana.