Saat seseorang mendatangimu dan bertanya, "Kamu siap?" Ini bukan lagi tentang perasaan, tapi keputusan.
Pernikahan dua keluarga terpandang digelar pagi ini. Akad nikah dilaksanakan di kompleks masjid agung yang berada di tengah kota.
Salah satu ruang pertemuan yang berada di lantai satu disulap sebagai tempat akad nikah. Nuansa putih dengan hiasan mawar berwarna senada membuat suasana kian syahdu.
Acara ijab kabul segera dimulai. Pasangan pengantin pun telah duduk di depan penghulu. Keduanya tampil elegan dengan setelan jas dan kebaya berwarna putih.
Suara penghulu terdengar sangat jernih di tengah keheningan. Dihadiri tamu undang terbatas membuat suasana sakral kian kental.
Hana mendengarkan dengan saksama saat Arif dipandu untuk menghafal kalimat ijab. Jantungnya berdegup kencang saat pria itu menyebut namanya dengan bergetar. Tanpa terasa, air mata yang ditahan sejak tadi menetes juga. Tinggal selangkah lagi, perjuangan ini berhasil.
Budi mengamati Arif dalam diam. Hatinya bergemuruh jika mengingat sebuah kenyataan yang akan terjadi. Anak satu-satunya menikah dan pergi dari rumah. Dia meremas tongkat penyangga yang sejak tadi digenggamnya.
Arif menyatakan kesiapannya untuk mengucapkan kalimat ijab. Dia menjabat tangan Budi. Namun, baru beberapa kata mendadak terhenti. Genggaman tangannya mengendur dan tubuhnya perlahan miring ke kanan.
Saksi yang duduk di samping kanan meja langsung menahan tubuh berjas putih itu. Dengan sigap beberapa kerabat mendekat dan membantu meletakkan tubuh Arif di atas permadani.
Suasana mendadak riuh. Pengantin pria mendadak pingsan sebelum menyelesaikan kalimat ijab dan disusul sang ibu. Kepanikan melanda, tapi rasa penasaran lebih mendominasi diantara mereka.
Dengan cekatan tangan Rohmat melonggarkan dasi dan melepas kancing atas kemeja Arif. Dia menepuk-nepuk pipi anaknya agar siuman.
“Rif … Arif, bangun!” Suara Rohmat bergetar.
“Mas, Mas Arif … buka mata, Mas …,” ucap Hana disela-sela tangisannya.
Dengan gemetaran, gadis itu terus menggosok telapak tangan Arif. Namun, tetap saja mata mempelai pria itu tertutup rapat.
Budi duduk bertopang tongkat. Tanpa mengucap sepatah kata dan larut dalam kejadian itu, dia melihat semuanya. Ayah Hana ini bergeming, meskipun menyaksikan kekalutan putrinya.
Hana terus berada di samping Arif. Menangis tersedu-sedu dan terus memanggil nama pujaan hatinya.
“Mas … Mas Arif, bangun!” Hana mengguncang tubuh Arif. “Yah, kita bawa ke rumah sakit!”