Simpul Mati Dua Hati

El Isra Lee
Chapter #2

Si Sulung

Rohmat benar-benar sudah buntu. Tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi keras kepala Budi. Jika terus seperti ini, makin berlarut-larut tanpa penyelesaian.

Pria tua ini menatap tubuh istrinya yang juga tergeletak tak jauh dari Arif. Wanita yang seharusnya bisa diajak diskusi dan mencari jalan keluar malah ikut pingsan. Rohmat menatap Hana untuk beberapa waktu. Calon menantu yang sangat diidam-idamkan bersanding dengan anak kesayangannya.

“Tapi, Mas … apa tidak sebaiknya bertanya pada Hana, maunya gimana?” tanya Rohmat pelan.

“Tidak!. Sekarang, dia harus patuh pada keputusanku.” Suara Budi menggelegar.

Semua yang berada di ruangan itu terdiam. Suasana kian tidak terkendali,perdebatan dua orang tua itu masih berlangsung dan mengabaikan fakta jika tak jauh dari keduanya, Arif masih belum sadarkan diri.

"Pak Budi, Pak Rohmat, maaf menyela, ini bagaimana kelanjutannya?" Petugas pencatat pernikahan itu melihat jam tangan. "Kami hanya punya waktu sepuluh menit lagi, pukul 11:00 kami ada acara di tempat lain."

Suara asisten penghulu ini berhasil membuat atmosfir di ruangan ini sedikit mencair.

Hana meremas ujung kebaya yang dikenakannya. Saat kesempatan yang diberikan Budi tidak berjalan sesuai rencana, maka dia akan memutuskan langsung tanpa perlu bertanya lagi. Ini adalah kesepakatan lama antara anak dan orang tua.

“Tidak Pak! Aku nggak mau nikah selain dengan Mas Arif. Kami saling mencintai,” mohon Hana berurai air mata.

Bisik-bisik kembali terdengar di ruangan itu. Keputusan Budi mengejutkan dan dinilai gegabah, seenaknya menukar pengantin pria seperti barang saja.

Budi menoleh, menatap nyalang pada anak satu-satunya. “Saling mencintai? Kamu lihat sendiri, ini hasil keras kepalamu! Apa kamu mau mempermalukan bapakmu ini! Kamu ingin bapakmu ini cepat mati? Ha! Jawab Rosita Hanaya Setyawati!”

Hana mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat dan tubuhnya bergetar hebat. Air mata yang bercucuran sejak tadi kian deras turun. Perlahan badan yang terbalut kebaya warna putih itu luruh.

“A-aku nggak bisa menghianati Mas Arif. A-aku mencintainya, Pak. Tolong sekali ini saja, Bapak tunggu sampai dia sadar.” Hana memberanikan diri menatap melas ke arah Budi dan berharap luluh, meskipun tahu peluangnya sangat kecil.

Budi kembali menggentakkan tongkatnya ke lantai. "Menikahlah dengan Ahmad, bapak akan melupakan pembangkanganmu kali ini!"

Tangis Hana kian keras. Sudah tidak ada jalan kembali lagi untuknya. Andai saja ibunya masih hidup, dia pasti akan membelanya.

Semua orang menatap iba pada Hana. Terbayang bagaimana tertekannya kehidupannya selama ini.


***


Sementara itu, disaat yang sama. Ahmad duduk seorang diri di kafe yang terletak di seberang jalan. Dia sesekali menatap pada bangunan megah masjid berlantai tiga itu. Pria yang sangat diinginkan Budi menjadi suami pengganti untuk menikahi anaknya ini, bahkan tidak tahu-menahu jika dirinya menjadi perdebatan Rohmat, Budi dan Hana.

Jarum jam menunjuk pukul 10:15. Menunggu hampir 1,5 jam dan belum juga mendapat kabar dari ayahnya. Ahmad mengetuk-ngetukkan pelan jari telunjuk ke permukaan meja.

"Sebenernya apa yang mereka lakukan di dalam sana," gumamnya.

Lihat selengkapnya