“Gantikan Arif menikahi Hana!” sahut Budi.
Ahmad tertawa hambar. Dia menatap bergantian Budi dan Rohmat. Dua pria tua yang menurutnya membuat keputusan yang sangat konyol.
Semua kerabat yang berada di ruangan itu menahan napas, seperti terdakwa menunggu putusan hakim. Sebuah keputusan yang tidak sepadan, mengingat Hana dan Arif berpacaran selama sembilan tahun.
“Kenapa Anda seyakin itu Pak Budi?” Ahmad melepaskan topi dan maskernya. “Seperti ini, apa layak untuk putri anda yang cantik itu?”
Hana menatap Ahmad dengan raut wajah begidik. Seketika bulu kudunya berdiri dan tanpa sadar telapak tangan Hana mengusap-usap lengannya. Bagaimana bisa wajah yang selalu tertutup masker itu sangat mengerikan. Awalnya, dia mengira wajah Ahmad memang buruk, tapi tidak separah ini
Lagi-lagi, semua yang hadir di ruangan itu terkejut tak berkesudahan. Selama ini, mereka menganggap Ahmad sombong karena ke mana pun terus memakai penutup wajah dan irit bicara. Ternyata, ini yang disembunyikan.
Bekas luka memanjang mulai dari bawah tulang pipi hingga satu senti di samping ujung mulut. Bibir bagian bawah miring, rahang yang tidak simetris lagi dan sedikit miring ke kiri. Kulit cokelat dan rambut ikal sebahu yang tadinya dikuncir juga sudah diuraikan.
Ahmad tersenyum di salah satu sudut bibirnya. Dia sangat paham arti tatapan semua orang saat pertama kali melihat wajahnya secara langsung.
“Lihat! Masih berkenan menjadikan saya menantu Tuan Raden Budiono Rahardjo?” tanya Ahmad.
Ada sedikit keterkejutan di wajah Budi saat melihat penampilan Ahmad. Sebagai mantan komandan di sebuah kesatuan, hal itu sudah biasa. Namun, tetap saja tidak menyangka jika kejadian yang pernah viral beberapa tahun silam berakhir seperti ini. Dia makin tertarik saja dengan anak sulung keluarga Rohmat itu. Pria yang tegas dan lugas sangat cocok untuk anak satu-satunya.
Budi menyeringai. “Nikahi Hana atau kutuntut keluargamu!”
Ahmad geleng-geleng, lalu mengangkat kedua tangan. “Keluarga? Keluarga yang mana?”
“Tutup mulutmu Mad! Setujui saja. Dengan tampang seperti itu, siapa yang mau kamu nikahi!” sela Rohmat.
"Nikahi saja anakku!" tegas Budi sekali lagi.
Ahmad dan Budi saling menatap untuk waktu lama. Tidak ada kata, tapi cukup membuat atmosfer di ruang pertemuan itu kian memanas.
“Gila!” gumam Ahmad.
Pria dengan tinggi 180 cm ini tidak ingin larut dalam kegaduhan yang dianggapnya sangat tidak masuk akal. Ahmad berbalik meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya tertahan saat mencapai pintu.
“Tunggu!” Budi bangkit dari duduk berjalan tertatih dengan tongkat penyanggah mendekati Ahmad, lalu menepuk bahunya. “Apa pertunjukanmu hanya sampai di sini. Kenapa tidak diselesaikan sekalian? Pergilah! Sejak awal, ini memang bukan urusanmu. Tapi, harus kamu ingat. Sekali kakimu melangkah, nama baik Hana yang paling hancur.”