Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #1

Hari Pertama

Tidak ada yang aneh pada hari pernikahanku.

Langit cerah. Tidak terlalu panas, tidak juga mendung. Cuaca yang sempurna untuk sebuah pesta pernikahan, kata semua orang.

Ibuku menangis sejak pagi.

Bukan tangisan yang pecah atau menyedihkan. Air matanya jatuh diam-diam saat merapikan kerudungku, lalu ia buru-buru menghapusnya sebelum aku sempat menggoda.

“Jangan nangis dulu, Bu. Acara belum mulai.”

“Ibu nggak nangis.”

Aku tertawa.

“Kaca mata Ibu sampai berembun.”

“Itu karena AC.”

“Tapi kita lagi di kamar.”

Ibuku mendelik.

Aku menyerah sambil tersenyum.

Di luar kamar terdengar suara langkah kaki yang hilir mudik. Sepupuku sibuk membawa kotak hantaran. Teman-temanku bergantian masuk hanya untuk memastikan aku masih bernapas dan belum kabur dari gedung.

Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Sebagaimana pernikahan pada umumnya.

Kecuali satu hal.

Di dalam tasku terdapat sebuah binder hitam.

Tidak besar. Tidak mencolok. Hanya sebuah binder sederhana dengan sampul polos.

Namun isinya cukup untuk membuat sebagian besar orang mempertanyakan kewarasanku.

Aku meliriknya sekali lagi.

Tulisan putih di sampul depan masih terlihat jelas.

SIMULASI PERNIKAHAN

Hari ke-1 sampai Hari ke-365

Aku mengembuskan napas pelan.

“Asha.”

Aku menoleh.

Nadia berdiri di ambang pintu.

Sahabatku sejak kuliah.

Satu-satunya orang selain Rendra yang tahu isi binder itu.

Ia menatap tasku.

Lalu menatapku.

“Kamu masih bawa itu?”

“Tentu.”

“Kamu benar-benar serius.”

“Aku memang serius.”

Nadia menggeleng.

“Aku tetap merasa ini ide paling aneh yang pernah kamu buat.”

“Itu karena kamu belum melihat ide-ideku yang lain.”

“Aku nggak mau.”

Aku tertawa kecil.

Namun Nadia tidak.

Ia berjalan mendekat dan duduk di sampingku.

“Kamu gugup?”

Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.

Apakah aku gugup?

Tentu saja.

Aku akan menikah dalam waktu kurang dari satu jam.

Aku akan mengucapkan janji yang selama bertahun-tahun berusaha kuhindari.

Aku akan menjadi istri seseorang.

Dan sejujurnya…

Aku tidak tahu apakah aku siap.

“Aku baik-baik saja,” jawabku akhirnya.

“Kamu bohong.”

“Aku psikolog. Aku tahu cara berbohong dengan meyakinkan.”

“Dan aku sahabatmu. Aku tahu kapan kamu berbohong.”

Aku menghela napas.

Nadia menang. Seperti biasa.

“Aku takut.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Nadia tidak terlihat terkejut.

Mungkin karena ia sudah tahu sejak lama.

“Takut menikah?”

Aku mengangguk.

“Takut gagal.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menunduk melihat jemariku sendiri.

“Coba lihat sekeliling kita.”

Aku tersenyum pahit.

“Setengah orang yang datang hari ini mungkin pernah bilang mereka akan bersama selamanya.”

Nadia diam.

“Sebagian berhasil.”

Aku melanjutkan.

“Sebagian tidak.”

Tanganku tanpa sadar menggenggam ujung gaun.

“Aku cuma nggak mau menjadi salah satunya.”

Lihat selengkapnya