Ada banyak hal yang tidak pernah dibicarakan orang tentang pernikahan.
Mereka membicarakan gaun.
Mereka membicarakan dekorasi.
Mereka membicarakan bulan madu.
Mereka membicarakan foto-foto yang akan diunggah ke media sosial.
Tetapi tidak ada yang memperingatkanku tentang satu hal yang sangat penting.
Bahwa setelah menikah, seseorang bisa meninggalkan gelas di tempat-tempat yang tidak masuk akal.
Aku berdiri di dapur sambil memegang sebuah gelas kosong.
Lalu melihat gelas kedua di meja makan.
Gelas ketiga di dekat televisi.
Dan gelas keempat di atas rak buku.
Aku memejamkan mata.
Menghitung sampai lima.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Tidak membantu.
“Ada apa?”
Suara Rendra terdengar dari belakang.
Aku mengangkat salah satu gelas.
“Aku menemukan koloni.”
Rendra mengernyit.
“Koloni?”
“Gelas.”
“Oh.”
“Itu responsmu?”
“Apa yang seharusnya aku katakan?”
Aku menunjuk ke seluruh ruangan.
“Kenapa ada empat gelas?”
Rendra mengikuti arah jariku.
Lalu tertawa.
“Oh.”
“Oh?”
“Aku lupa membereskannya.”
Aku menatapnya.
Ia masih terlihat santai.
Seolah keberadaan empat gelas di empat lokasi berbeda adalah fenomena alam yang wajar.
“Asha.”
“Hm?”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Kamu kelihatan marah.”
“Aku sedang berusaha tidak marah.”
“Itu lebih menyeramkan.”
Aku memejamkan mata lagi.
Hari ketujuh.
Baru hari ketujuh.
Malam itu kami mengadakan evaluasi mingguan pertama.
Ide yang tentu saja berasal dariku.
Binder hitam berada di atas meja.
Aku membuka halaman baru.
Rendra duduk di depanku sambil memakan keripik.
“Kita harus serius.”
“Aku serius.”
“Kamu makan keripik.”
“Aku bisa serius sambil makan keripik.”
Aku menghela napas.
Kemudian mulai menulis.
Evaluasi Minggu Pertama
Bagian pertama:
Hal yang berjalan baik.
Aku menoleh.
“Kamu dulu.”
Rendra berpikir sejenak.
“Laundry.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Masakanmu juga enak.”
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih.”