Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #3

Bulan Pertama

Ada sebuah kebohongan kecil yang sering dikatakan orang tentang cinta.

Katanya, semakin lama mengenal seseorang, semakin sedikit hal yang akan mengejutkanmu.

Menurutku itu tidak benar.

Karena setelah menikah dengan Rendra selama hampir satu bulan, aku justru menemukan banyak hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya.

Misalnya:

Rendra ternyata berbicara saat tidur.

Bukan kalimat yang masuk akal.

Lebih seperti potongan-potongan percakapan aneh.

Suatu malam ia berkata:

“Jangan kasih kucing itu SIM.”

Lalu kembali tidur.

Keesokan paginya ia tidak mengingat apa pun.

Aku tertawa selama lima menit penuh.

Dan Rendra menghabiskan sepanjang sarapan mencoba meyakinkanku bahwa ia tidak pernah mengatakan hal itu.

Sayangnya, aku sudah merekamnya.

Hari ke-27.

Aku sedang menyelesaikan laporan ketika ponselku bergetar.

Satu pesan masuk dari Rendra.

Rendra

Kita punya beras?

Aku membalas.

Harusnya masih ada.

Beberapa menit kemudian.

Rendra

Aku baru buka lemari.

Kita nggak punya beras.

Aku menghela napas.

Cek rak bawah.

Tidak ada balasan.

Lalu muncul lagi.

Rendra

Ketemu.

Aku salah lemari.

Aku memijat pelipis.

Kadang-kadang aku merasa menikahiku membuat hidup Rendra lebih mudah.

Menikah dengan Rendra membuat hidupku lebih… menarik.

Malam itu hujan turun deras.

Aku pulang lebih lambat karena jalanan macet.

Saat membuka pintu apartemen, aku menemukan lampu ruang tamu mati.

Jantungku sempat berdegup lebih cepat.

“Aku pulang?”

Tidak ada jawaban.

Aku melangkah masuk.

Lalu berhenti.

Di atas meja makan terdapat dua piring.

Dua gelas.

Dua lilin kecil.

Dan seorang pria yang berdiri dengan senyum bangga.

“Tada.”

Aku berkedip.

“Kenapa lampunya mati?”

“Supaya romantis.”

“Tagihan listrik kita belum dibayar?”

“Bukan itu poinnya.”

Aku tertawa.

Rendra menarik kursi.

“Duduk.”

Aku menurut.

Masih tersenyum.

Masih bingung.

“Ada acara apa?”

Rendra berpikir sejenak.

“Lulus satu bulan.”

Aku menatapnya.

“Lulus satu bulan?”

“Iya.”

“Siapa yang merayakan satu bulan pernikahan?”

“Aku.”

Aku tertawa lagi.

Kali ini lebih keras.

Karena hanya Rendra yang bisa menganggap satu bulan pernikahan sebagai pencapaian yang layak dirayakan.

Namun saat melihat ekspresinya, aku perlahan berhenti tertawa.

Lihat selengkapnya