Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #4

Retakan Kecil

Menurutku, tidak ada hubungan yang hancur karena satu masalah besar.

Hubungan hancur karena seratus masalah kecil yang dibiarkan tumbuh.

Saat itu, tentu saja, aku belum mengetahui hal tersebut.

Saat itu aku masih berpikir bahwa selama tidak ada pertengkaran besar, semuanya baik-baik saja.

Aku salah.

Hari ke-34.

Pukul 21.17.

Aku duduk di meja makan dengan dua piring yang mulai dingin.

Rendra belum pulang.

Awalnya aku tidak khawatir.

Lalu pukul sembilan lewat.

Kemudian sembilan lewat lima belas.

Dan tidak ada kabar.

Aku melihat ponsel lagi.

Kosong.

Tidak ada pesan.

Tidak ada panggilan.

Tidak ada apa-apa.

Aku mengetik.

Kamu di mana?

Terkirim.

Tidak dibaca.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Tidak ada balasan.

Perasaan yang sangat familiar mulai muncul di dadaku.

Perasaan yang kubenci.

Perasaan yang sudah ada sejak usia sebelas tahun.

Menunggu.

Menunggu seseorang yang seharusnya pulang.

Menunggu seseorang yang seharusnya memberi kabar.

Menunggu seseorang yang berkata akan datang.

Lalu tidak datang.

Aku mengunci layar ponsel.

Berusaha mengusir pikiran itu.

Rendra bukan ayahku.

Aku tahu itu.

Tetapi trauma tidak selalu peduli pada logika.

Pukul 21.43.

Pintu apartemen akhirnya terbuka.

Rendra masuk sambil mengembuskan napas panjang.

“Kamu belum tidur?”

Aku menatapnya.

“Harusnya?”

Ia berhenti.

Baru menyadari sesuatu.

“Aku telat.”

“Empat puluh tiga menit.”

“Kamu menghitung?”

“Tentu aku menghitung.”

Rendra meletakkan tasnya.

“Aku minta maaf.”

Aku menunggu.

Menunggu penjelasan.

Namun ia hanya berdiri di sana.

“Ada rapat mendadak.”

“Itu saja?”

“Ya.”

Aku mengernyit.

“Itu saja?”

Rendra tampak bingung.

“Iya.”

“Kamu nggak bisa kasih kabar?”

“Asha…”

“Nggak sampai satu menit.”

Ia menarik napas panjang.

Dan aku langsung tahu.

Kami sedang menuju sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Aku sibuk.”

Kalimat itu.

Aku tidak tahu kenapa.

Namun kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku langsung menegang.

“Aku juga sibuk.”

“Aku nggak bilang kamu nggak sibuk.”

“Tapi aku bisa kirim pesan.”

“Asha.”

“Tiga kata cukup.”

Lihat selengkapnya