Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #7

Nomor Yang Tidak Kusimpan

Hari ke-72.

Aku sedang berada di ruang konsultasi ketika ponselku bergetar.

Satu kali.

Lalu dua kali.

Lalu tiga kali.

Aku melirik layar sekilas.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengabaikannya.

Biasanya itu telemarketing.

Atau klien yang salah jadwal.

Atau seseorang yang ingin menjual sesuatu yang tidak kubutuhkan.

Ponsel kembali bergetar.

Nomor yang sama.

Aku mengernyit.

Lalu menekan tombol diam.

Sesi konsultasi masih berlangsung.

Aku akan menelepon kembali nanti.

Namun setelah sesi terakhir selesai dan aku melihat layar ponsel lagi, ada satu pesan masuk.

Dari nomor yang sama.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat.

Ini Ayah.

Dunia seakan berhenti selama beberapa detik.

Aku membaca ulang.

Lalu sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Seolah jika kubaca cukup sering, kalimat itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal.

Tidak berubah.

Tetap sama.

Ini Ayah.

Tanganku langsung dingin.

Dadaku terasa sesak.

Tujuh belas tahun.

Tujuh belas tahun tanpa telepon.

Tanpa pesan.

Tanpa ulang tahun.

Tanpa kabar.

Dan sekarang…

Dua kata.

Seolah tujuh belas tahun hanyalah jeda iklan.

Aku tidak membalas.

Hari itu juga tidak.

Malamnya pun tidak.

Aku hanya menatap pesan itu berkali-kali.

Membacanya.

Menghapus notifikasi.

Lalu membacanya lagi.

Rendra memperhatikanku sejak makan malam.

Ia tidak langsung bertanya.

Namun aku tahu ia menyadari ada yang berbeda.

“Asha.”

Aku mengangkat kepala.

“Hm?”

“Kamu sudah baca pesan yang sama enam kali.”

Aku langsung mengunci layar.

Terlambat.

Ia sudah melihat.

“Kabar buruk?”

Aku membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Membuka lagi.

Menutup lagi.

Aku, seorang psikolog yang dibayar untuk membantu orang berbicara tentang perasaannya, tiba-tiba kehilangan kemampuan menyusun kalimat.

Rendra menunggu.

Tidak mendesak.

Tidak memaksa.

Hanya menunggu.

Akhirnya aku menyerahkan ponsel itu.

Tanpa berkata apa-apa.

Ia membaca pesannya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Wajahnya berubah.

“Oh.”

Hanya itu yang keluar.

Lihat selengkapnya