Hari ke-79.
Aku membalas pesannya.
Hanya tiga kata.
Kapan dan di mana?
Setelah itu aku menyesalinya.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Mungkin lima puluh kali.
Aku bahkan sempat mempertimbangkan untuk menghapus pesan itu sebelum dibaca.
Sayangnya, teknologi tidak mendukung kepanikan mendadak.
Pesan itu terkirim.
Dan dibaca.
Balasan datang lima menit kemudian.
Terlalu cepat.
Seolah ia sudah menunggu di depan layar selama berjam-jam.
Sabtu.
Jam 2 siang.
Kafe Melati.
Terima kasih, Asha.
Aku menatap kalimat terakhir cukup lama.
Terima kasih.
Aneh sekali.
Seharusnya aku yang menerima ucapan terima kasih?
Setelah tujuh belas tahun?
Aku mengunci layar ponsel.
Lalu membukanya lagi.
Lalu menguncinya lagi.
Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan.
“Aku jadi ketemu dia.”
Rendra yang sedang mencuci piring berhenti.
Ia menoleh.
“Kapan?”
“Sabtu.”
Ia mengangguk.
Tidak terkejut.
Tidak panik.
Tidak memberi ceramah.
Kadang aku iri dengan ketenangannya.
“Takut?”tanyanya.
Aku tertawa pendek.
“Pertanyaan yang lucu.”
“Karena jawabannya jelas?”
“Karena aku hampir muntah setiap kali memikirkannya.”
Rendra tertawa kecil.
Kemudian kembali mencuci piring.
Aku menatap punggungnya.
Dan tiba-tiba merasa kesal.
Entah kenapa.
Ia terlalu tenang.
Terlalu santai.
Terlalu normal.
Sementara hidupku terasa seperti sedang dilempar ke dalam mesin cuci.
“Aku akan ketemu orang yang meninggalkanku.”
kataku.
Nada suaraku lebih tajam dari yang kumaksudkan.
Rendra menutup keran.
Menoleh.
Baru kali ini ia benar-benar memperhatikanku.
“Asha.”
“Apa?”
“Kamu marah sama aku?”
Aku langsung membeku.
Karena…
Mungkin iya.
Padahal ia tidak melakukan apa-apa.
Malam itu aku tidak bisa fokus.
Aku membaca halaman yang sama dari sebuah buku sebanyak empat kali.
Aku salah memasukkan garam ke dalam teh.
Aku bahkan lupa mengunci pintu balkon.
Semua karena satu pertemuan.
Satu pertemuan yang bahkan belum terjadi.
“Asha.”
Aku menoleh.
Rendra berdiri di depan rak buku.
“Mau jalan sebentar?”
“Tidak.”
“Mau nonton film?”
“Tidak.”
“Mau makan es krim?”
“Tidak.”
Ia berpikir.
Lalu berkata: