Hari ke-81.
Aku datang tiga puluh menit lebih awal.
Tentu saja.
Karena ketika seseorang akan bertemu ayah yang menghilang selama tujuh belas tahun, ternyata otak memutuskan bahwa datang terlalu cepat adalah ide yang bagus.
Aku duduk di sudut kafe.
Segelas teh yang sudah mulai dingin berada di depanku.
Tanganku terus memainkan ujung tisu.
Aku berhenti.
Lalu melakukannya lagi.
Berhenti.
Lalu lagi.
Gugup ternyata membuat manusia melakukan hal-hal bodoh.
Pukul 13.57.
Aku hampir pergi.
Sungguh.
Aku bahkan sudah mengambil tas.
Sudah berdiri.
Sudah membuat keputusan.
Lalu pintu kafe terbuka.
Dan seorang pria masuk.
Rambutnya lebih banyak uban daripada yang kubayangkan.
Bahu yang dulu terlihat besar kini sedikit membungkuk.
Langkahnya pelan.
Matanya mencari seseorang.
Lalu menemukan aku.
Dan saat itu…
Aku tahu.
Itu dia.
Ayahku.
Aneh sekali.
Aku membayangkan momen ini selama bertahun-tahun.
Aku membayangkan akan marah.
Aku membayangkan akan menangis.
Aku membayangkan akan berteriak.
Namun saat benar-benar melihatnya…
Yang kurasakan hanyalah keasingan.
Seolah aku sedang melihat seseorang yang pernah kukenal dalam kehidupan lain.
Ia berjalan mendekat.
Berhenti di depan meja.
“Asha.”
Suaranya lebih tua.
Lebih berat.
Namun masih cukup familiar untuk membuat sesuatu dalam dadaku terasa sakit.
Aku mengangguk.
“Halo.”
Hanya itu.
Halo.
Dua orang yang terhubung oleh darah.
Dipisahkan oleh tujuh belas tahun.
Dan hanya mampu mengatakan halo.
“Aku boleh duduk?”
Aku mengangguk lagi.
Ia duduk.
Tangannya terlihat gemetar.
Entah karena gugup.
Entah karena usia.
Aku tidak tahu.
Dan anehnya…
Aku juga tidak yakin ingin tahu.
Beberapa menit pertama berlangsung canggung.
Sangat canggung.
Ia bertanya tentang pekerjaanku.
Aku menjawab singkat.
Ia bertanya tentang kehidupanku.
Aku menjawab seperlunya.
Seolah kami dua orang asing yang dipaksa berbicara.
Mungkin memang begitu.
Lalu akhirnya ia berhenti berpura-pura.
“Asha.”
Aku mengangkat kepala.
“Ayah minta maaf.”
Dan di situlah masalahnya.
Kalimat itu.
Kalimat yang selama bertahun-tahun ingin kudengar.
Ternyata tidak memperbaiki apa pun.
Tidak menghapus malam-malam ketika aku menangis karena iri melihat teman-temanku dijemput ayah mereka.
Tidak menghapus ulang tahun yang terlewat.
Tidak menghapus tahun-tahun ketika ibuku harus menjadi dua orang sekaligus.
Maaf tidak memiliki kekuatan sebesar yang sering dibayangkan orang.
Aku menatap cangkir tehku.
“Buat yang mana?”
Suasana langsung membeku.
Ayahku menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku melihat rasa bersalah di wajahnya.