Hari ke-89.
Setelah bertemu ayahku, ada sesuatu yang berubah.
Bukan dunia.
Bukan pekerjaanku.
Bukan pernikahanku.
Aku.
Perubahannya kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuatku menyadarinya.
Aku mulai mencari Rendra.
Terus-menerus.
Sebelumnya aku terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Pulang sendiri.
Makan sendiri.
Menghadapi hari buruk sendiri.
Menangis sendiri.
Memikirkan masalah sendiri.
Namun sekarang…
Saat sesuatu terjadi, orang pertama yang muncul di pikiranku adalah Rendra.
Dan itu membuatku takut.
Hari itu salah satu klienku memutuskan menghentikan terapi.
Itu hal yang normal.
Terjadi lebih sering daripada yang dibayangkan orang.
Namun tetap saja terasa berat.
Aku keluar dari ruang praktik dengan kepala penuh.
Biasanya aku akan membeli kopi.
Berjalan sebentar.
Menenangkan diri.
Namun hari itu aku membuka ponsel.
Dan mengetik:
Hari ini berat.
Pesan terkirim.
Kurang dari satu menit kemudian.
Mau aku jemput?
Aku tersenyum.
Tanpa sadar.
Tanpa alasan.
Dan itu membuatku semakin takut.
Karena beginilah masalahnya.
Ketika seseorang mulai menjadi tempat pulang…
Mereka juga mulai memiliki kemampuan untuk menghancurkanmu.
“Aku terlalu bergantung padamu. “kataku malam itu.
Rendra yang sedang membaca langsung mengangkat kepala.
“Hm?”
“Aku serius.”
“Oke.”
“Aku rasa itu nggak sehat.”
Ia menandai halaman bukunya.
Lalu meletakkannya.
Ekspresi serius.
Yang berarti ia benar-benar mendengarkan.
“Asha.”
“Hm?”
“Kamu tahu bedanya bergantung dan mempercayai seseorang?”
Aku menggeleng.
Ia tersenyum kecil.
“Aku juga nggak terlalu tahu.”
Aku langsung melempar bantal ke arahnya.
“Rendra!”
“Apa? Aku bukan psikolog.”
Aku tertawa meski tidak ingin.
Namun kemudian ia melanjutkan.
“Satu hal yang aku tahu.”
Aku menunggu.
“Kamu selalu menganggap membutuhkan orang lain sebagai kelemahan.”
Aku terdiam.
Karena lagi-lagi…
Ia benar.
Sejak kecil aku terbiasa mendengar satu kalimat.
Jangan merepotkan orang lain.
Awalnya terdengar baik.
Bijak.
Dewasa.
Namun tanpa sadar aku membawanya terlalu jauh.
Sampai pada titik di mana meminta bantuan terasa seperti kegagalan.
Membutuhkan seseorang terasa seperti ancaman.
Dan mencintai seseorang terasa seperti menyerahkan senjata kepada mereka.