Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #11

Evaluasi Tiga Bulan

Hari ke-97.

Jika tiga bulan pertama pernikahan kami dijadikan film, orang-orang mungkin akan menyebutnya membosankan.

Tidak ada perselingkuhan.

Tidak ada rahasia besar.

Tidak ada piring yang dilempar.

Tidak ada adegan hujan sambil berteriak.

Hanya dua orang dewasa yang berusaha menjalani hidup bersama.

Dan ternyata…

Itu jauh lebih sulit daripada yang terdengar.

Masalah dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Waktu.

Atau lebih tepatnya…

Kurangnya waktu.

Dua minggu terakhir terasa aneh.

Aku sibuk.

Rendra juga sibuk.

Kami masih sarapan bersama.

Masih tidur di ranjang yang sama.

Masih saling mengucapkan selamat pagi dan selamat malam.

Namun rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.

Sesuatu yang tidak bisa langsung kujelaskan.

Hari Senin.

Aku pulang pukul delapan malam.

Rendra belum pulang.

Hari Selasa.

Rendra pulang saat aku sudah tertidur.

Hari Rabu.

Kami hanya bertemu selama dua puluh menit sebelum salah satu dari kami harus kembali bekerja.

Hari Kamis.

Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kami makan malam bersama.

Dan itulah saat aku mulai menyadari masalahnya.

Hari Jumat malam.

Aku membuka pintu apartemen.

Lampu ruang tamu menyala.

Aku tersenyum.

Akhirnya.

Namun ketika masuk, aku menemukan Rendra sedang bekerja di depan laptop.

Beberapa gambar desain memenuhi layar.

Ia bahkan tidak menyadari aku datang.

“Aku pulang.”

“Oh.”

Ia mengangkat kepala.

Tersenyum.

“Lho, sudah jam segini?”

Aku berhenti.

Kalimat itu seharusnya tidak menyakitkan.

Namun entah kenapa…

Menyakitkan.

Sedikit.

Kami makan malam bersama.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

Namun suasananya tidak seperti biasanya.

Rendra beberapa kali memeriksa ponselnya.

Aku beberapa kali memeriksa email.

Dan di tengah semua itu…

Kami kehilangan percakapan.

“Ada proyek besar?”tanyaku.

“Hm?”

Rendra mengangkat kepala.

“Ya.”

“Itu yang membuatmu sibuk?”

“Iya.”

Ia kembali melihat ponselnya.

Aku menunggu.

Biasanya ia akan bercerita.

Tentang klien yang aneh.

Tentang desain yang harus diubah berkali-kali.

Tentang kantor.

Apa saja.

Namun kali ini tidak.

Dan aku tidak tahu kenapa itu membuatku kesal.

Hari berikutnya adalah jadwal evaluasi bulanan.

Bulan ketiga.

Binder hitam kembali berada di meja.

Aku membuka halaman baru.

Dan untuk pertama kalinya…

Lihat selengkapnya