Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #12

Kota Yang Berjarak

Hari ke-103.

Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan Rendra.

Bukan rahasia besar.

Bukan sesuatu yang mengancam pernikahan kami.

Hanya…

Sesuatu.

Aku bisa melihatnya dari caranya menatap layar laptop lebih lama dari biasanya.

Dari caranya membuka email lalu langsung menutupnya saat aku mendekat.

Dari caranya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkannya.

Dan setelah tiga bulan menikah, aku sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa Rendra adalah pembohong yang buruk.

“Ada apa?”

Aku akhirnya bertanya.

Malam itu.

Pukul sembilan lewat dua puluh.

Kami sedang makan malam.

Atau lebih tepatnya…

Berusaha makan malam.

Karena pikirannya jelas berada di tempat lain.

“Hm?”

“Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

Aku langsung meletakkan sendok.

Rendra melihatku.

Kemudian melihat sendok itu.

Lalu menghela napas.

“Oke.”

Aku menunggu.

Ia mengusap tengkuknya.

Kebiasaan yang selalu muncul saat gugup.

“Ada tawaran proyek.” katanya akhirnya.

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Itu proyek besar.”

“Lebih bagus lagi.”

“Asha.”

Nada suaranya berubah.

Dan saat itulah aku tahu.

Ada bagian yang belum diucapkan.

“Di Bandung.”

Aku berhenti bergerak.

Hanya sesaat.

Namun cukup lama untuk disadari.

“Bandung?”

“Iya.”

Aku mencoba terdengar santai.

Mencoba.

“Berapa lama?”

Rendra tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah menjadi jawaban.

“Empat sampai enam bulan.”

Ruangan mendadak terasa lebih kecil.

Lebih sunyi.

Lebih sempit.

Aku tidak menyukai reaksiku sendiri.

Karena bagian logis dari diriku langsung berkata:

Ini normal.

Ini pekerjaan.

Ini kesempatan bagus.

Ini bukan tragedi.

Namun bagian lain dari diriku…

Bagian yang lebih tua.

Lebih terluka.

Lebih takut.

Langsung berbisik:

Pergi.

“Oh.”

Hanya itu yang berhasil kukatakan.

Oh.

Satu suku kata.

Sama seperti saat Rendra membaca pesan dari ayahku.

Lucunya, ternyata satu kata bisa menyembunyikan begitu banyak emosi.

“Asha.”

Aku tersenyum.

Setidaknya berusaha.

“Itu kabar baik.”

“Aku belum bilang iya.”

Aku mengangguk.

Terlalu cepat.

Terlalu kaku.

Dan kami berdua tahu itu.

Malam itu aku tidur lebih awal.

Atau pura-pura tidur.

Rendra tidak memaksaku bicara.

Mungkin karena ia tahu.

Mungkin karena ia juga sedang berpikir.

Aku tidak tahu.

Namun yang kutahu adalah…

Lihat selengkapnya