Hari ke-110.
Rendra menerima proyek itu.
Aneh sekali.
Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum ia mengatakannya.
Aku melihatnya dari caranya tersenyum saat membaca email.
Dari caranya mencoba menyembunyikan antusiasme agar tidak melukai perasaanku.
Dari caranya yang terlalu sering bertanya apakah aku baik-baik saja.
Seolah-olah ia sedang menunggu izin.
Padahal sebenarnya…
Keputusan itu sudah dibuat jauh sebelum kami membicarakannya.
“Aku bilang iya.”
katanya pelan.
Kami sedang duduk di balkon.
Malam.
Angin dingin.
Lampu kota di kejauhan.
Tempat yang biasanya terasa tenang.
Malam itu tidak.
Aku mengangguk.
“Selamat.”
Dan aku sungguh-sungguh mengatakannya.
Itulah bagian yang membingungkan.
Aku bangga padanya.
Sangat bangga.
Namun pada saat yang sama…
Aku sedih.
Dan ternyata dua emosi itu bisa hidup berdampingan.
Rendra terlihat lega.
Namun tidak sepenuhnya.
Karena ia mengenalku.
Dan ia tahu aku masih menyembunyikan sesuatu.
“Kamu boleh marah.” katanya.
Aku tertawa kecil.
“Aku tidak marah.”
“Itu justru yang membuatku khawatir.”
Aku menoleh.
“Apa maksudnya?”
“Biasanya kalau ada masalah, kamu menganalisis semuanya sampai habis.”
Aku memutar mata.
“Itu kritik?”
“Itu observasi.”
“Psikolog biasanya yang observasi.”
“Kelamaan hidup sama psikolog. Menular.”
Aku tersenyum.
Sedikit.
Namun setelah itu kami kembali diam.
Karena ada kalimat yang belum diucapkan.
Kalimat yang berdiri di tengah kami seperti tembok.
“Kapan berangkat?”
Aku akhirnya bertanya.
“Awal bulan depan.”
Tiga minggu lagi.
Tiga minggu.
Dadaku langsung terasa sesak.
Tiga minggu ternyata sangat sebentar.
Malam itu aku tidak menulis di binder.
Aku hanya menatapnya.
Binder hitam yang dulu terasa seperti perlindungan.
Panduan.
Peta.
Sekarang terlihat seperti benda biasa.
Karena untuk pertama kalinya aku menghadapi sesuatu yang tidak bisa direncanakan.
Tidak ada tabel.
Tidak ada aturan.
Tidak ada simulasi.
Hanya kepercayaan.
Dan aku tidak pernah benar-benar ahli dalam hal itu.
Hari-hari berikutnya berlalu terlalu cepat.
Mungkin waktu memang memiliki kebiasaan buruk.
Ia melambat saat kita menunggu sesuatu.
Dan berlari saat kita ingin menghentikannya.
Rendra mulai sibuk mempersiapkan keberangkatan.
Dokumen.
Presentasi.
Rapat.
Panggilan telepon.
Aku juga sibuk.
Namun setiap kali melihat koper yang mulai dikeluarkan dari lemari…
Ada sesuatu dalam diriku yang menegang.
Suatu malam.