Hari ke-121.
Hari keberangkatan.
Aku membencinya bahkan sebelum hari itu datang.
Bukan karena Bandung.
Bukan karena proyeknya.
Melainkan karena aku sudah menghabiskan tiga minggu terakhir mengkhawatirkan hari ini.
Dan ternyata…
Tidak ada jumlah kekhawatiran yang bisa membuat seseorang lebih siap.
Aku bangun pukul lima pagi.
Rendra masih tidur.
Satu tangannya terjulur ke arah sisiku yang kosong.
Kebiasaan yang tidak pernah kusadari sebelumnya.
Aku memperhatikannya beberapa saat.
Lalu berpikir:
Besok aku tidak akan melihat ini.
Dan dadaku langsung terasa sesak.
“Asha.”
Aku tersentak.
Ternyata ia sudah bangun.
“Mengawasi orang tidur itu menyeramkan.” katanya.
Aku memutar mata.
“Kamu terlalu nyaman untuk seseorang yang akan pergi hari ini.”
Ia tertawa kecil.
Namun senyumnya tidak bertahan lama.
Karena ia juga gugup.
Aku bisa melihatnya.
Pagi itu berjalan aneh.
Terlalu hati-hati.
Terlalu sopan.
Seolah kami berdua sedang berjalan di atas kaca tipis.
Tidak ingin mengatakan hal yang salah.
Tidak ingin merusak beberapa jam terakhir bersama.
Dan justru karena itu…
Kami mulai kehilangan diri sendiri.
“Aku sudah pesan taksi.” kata Rendra sambil menutup kopernya.
Aku mengangguk.
“Oke.”
“Berangkat jam sembilan.”
“Oke.”
“Kamu kerja hari ini?”
“Oke.”
Ia berhenti.
“Asha.”
Aku menghela napas.
“Maaf.”
Namun masalah sebenarnya bukan itu.
Masalahnya adalah ketakutan.
Dan ketakutan memiliki kebiasaan buruk.
Ia sering menyamar menjadi kemarahan.
Satu jam sebelum berangkat.
Rendra menerima telepon dari kantornya.
Aku tidak terlalu memperhatikan awalnya.
Sampai mendengar kalimat:
“Iya, aku bisa berangkat lebih cepat.”
Aku langsung menoleh.
Lebih cepat?
Setelah telepon ditutup, aku bertanya:
“Lebih cepat?”
“Oh.”
Ia terlihat ragu.
“Ada perubahan jadwal sedikit.”
“Sedikit?”
“Kereta jam delapan.”
Aku membeku.
“Jam delapan?”
“Iya.”
“Aku pikir jam sembilan.”
“Baru dikabarin.”
Aku mengangguk.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berdiri.
Berjalan ke dapur.
Karena kalau tidak, aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
Namun ternyata pergi ke dapur tidak membantu.
Karena beberapa menit kemudian aku tetap berkata:
“Kamu bisa bilang lebih awal.”
Rendra menoleh.
“Aku baru tahu.”
“Bukan soal itu.”
“Nah kalau begitu soal apa?”
Dan akhirnya…
Terjadilah.
“Selalu begini.”
Kalimat itu keluar lebih keras dari yang kumaksudkan.
Rendra mengernyit.