Hari ke-128.
Tujuh hari.
Tujuh hari sejak Rendra berangkat.
Tujuh hari sejak aku terakhir melihatnya secara langsung.
Tujuh hari sejak apartemen ini menjadi terlalu sunyi.
Yang lucu adalah…
Aku selalu mengira yang paling sulit dari hubungan jarak jauh adalah rasa rindu.
Ternyata bukan.
Yang paling sulit adalah kesunyian.
Kesunyian ketika pulang kerja dan tidak ada suara seseorang bertanya:
“Hari ini bagaimana?”
Kesunyian ketika memasak terlalu banyak nasi karena tubuhmu masih terbiasa memasak untuk dua orang.
Kesunyian ketika menemukan meme lucu dan refleks ingin menunjukkannya kepada seseorang yang tidak ada di ruangan itu.
Kesunyian dalam hal-hal kecil.
Hal-hal yang tidak pernah masuk ke film romantis.
Hari ketujuh.
Aku sedang makan malam sendirian.
Mie instan.
Karena ternyata motivasiku untuk memasak menurun drastis ketika hanya memasak untuk diri sendiri.
Ponselku bergetar.
Panggilan video.
Rendra.
“Akhirnya.” kataku begitu wajahnya muncul.
“Wow.”
Ia terlihat tersinggung.
“Itu sambutan yang hangat.”
“Kamu baru menelepon setelah tiga belas jam.”
“Aku kerja.”
“Kamu masih hidup?”
“Sejauh yang aku tahu.”
Aku tertawa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu…
Apartemen terasa sedikit lebih hidup.
“Aku merindukanmu.” kata Rendra.
Begitu saja.
Tanpa pembuka.
Tanpa peringatan.
Aku langsung memutar mata.
“Kamu baru mulai bicara tiga detik lalu.”
“Aku efisien.”
“Itu bukan efisien.”
“Itu romantis.”
“Itu mengganggu.”
Ia tertawa.
Dan aku menyadari sesuatu.
Aku sangat merindukan suara itu.
Malam itu kami berbicara hampir dua jam.
Tentang pekerjaan.
Tentang cuaca.
Tentang klienku yang aneh.
Tentang rekan kerjanya yang lebih aneh.
Tentang hal-hal tidak penting.
Dan justru itulah yang paling kurindukan.
Sebelum menutup telepon, Rendra berkata:
“Aku pulang dua minggu lagi buat akhir pekan.”
Dan tiba-tiba…
Aku memiliki sesuatu untuk ditunggu.
Namun kehidupan jarak jauh memiliki kebiasaan buruk.
Begitu kita mulai nyaman…
Ia menemukan cara baru untuk menguji kita.
Hari ke-134.
Aku sedang bekerja ketika mendapat pesan dari Rendra.
Lagi rapat.
Nanti telepon ya.
Aku membalas:
Oke.
Normal.
Sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Sampai malam tiba.
Dan telepon itu tidak pernah datang.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.
Mungkin sibuk.
Mungkin lupa.
Mungkin ketiduran.
Lalu pukul sepuluh malam.
Belum ada kabar.