Hari ke-142.
Ada sesuatu yang aneh tentang menunggu.
Ketika kita masih kecil, menunggu terasa seperti hukuman.
Menunggu ulang tahun.
Menunggu liburan.
Menunggu seseorang menyukai kita kembali.
Namun saat dewasa…
Menunggu sering kali menjadi bukti bahwa sesuatu berarti.
Dan selama dua minggu terakhir, aku menunggu.
Hari Jumat.
Pukul 17.43.
Kereta Rendra dijadwalkan tiba pukul 18.10.
Yang berarti aku tiba di stasiun pukul 17.20.
Tentu saja.
Karena aku.
Aku berdiri di dekat peron.
Berusaha terlihat normal.
Gagal total.
Setiap beberapa menit aku melihat jam.
Melihat papan jadwal.
Melihat ponsel.
Lalu mengulang siklus itu lagi.
Aku bahkan sempat membeli kopi.
Kemudian lupa meminumnya.
Saat pengumuman kedatangan terdengar, jantungku mulai berdebar.
Dan tiba-tiba aku merasa seperti orang bodoh.
Karena aku sudah menikah dengan pria itu.
Aku bukan sedang menunggu kencan pertama.
Bukan sedang menunggu pacar yang baru pulang dari luar negeri.
Kami menikah.
Secara hukum.
Secara agama.
Secara administratif.
Namun tetap saja…
Aku gugup.
Lalu aku melihatnya.
Di antara kerumunan.
Membawa tas ransel hitam.
Kemeja yang sedikit kusut.
Rambut yang lebih panjang daripada saat ia berangkat.
Dan senyum yang langsung membuatku lupa semua hal yang ingin kukatakan.
Rendra berhenti.
Menemukanku.
Dan tersenyum lebih lebar.
“Asha.”
Satu kata.
Namaku.
Dan entah kenapa terasa seperti rumah.
Aku berjalan mendekat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Dan sebelum sempat memikirkan apakah itu memalukan atau tidak…
Aku memeluknya.
Sangat erat.
Rendra tertawa.
“Aku baru pergi tiga minggu.”
“Diam.”
“Oke.”
Aku tidak melepaskannya beberapa detik lagi.
Mungkin lebih lama.
Aku tidak menghitung.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia pergi…
Ada sesuatu dalam diriku yang akhirnya tenang.
Malam itu kami makan di luar.
Berjalan kaki pulang.
Membicarakan hal-hal yang sebenarnya sudah kami ceritakan lewat telepon.
Namun anehnya tetap terasa berbeda.
Karena beberapa cerita memang membutuhkan kehadiran.
Saat sampai di apartemen, Rendra berhenti di depan pintu.
Menatap ruang tamu.
Kemudian berkata:
“Rumah.”
Aku tersenyum.
Rumah.
Bukan apartemen.
Bukan tempat tinggal.
Rumah.