Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #18

Sesuatu yang tidak pernah di bahas

Hari ke-151.

Ada topik-topik tertentu dalam sebuah hubungan yang seperti pintu tertutup.

Kita tahu pintu itu ada.

Kita melewatinya setiap hari.

Kita melihatnya.

Menyadarinya.

Namun tidak pernah benar-benar membukanya.

Karena selama pintu itu tetap tertutup…

Kita tidak perlu menghadapi apa yang ada di baliknya.

Bagi kami, pintu itu adalah:

Anak.

Bukan karena kami membencinya.

Bukan karena kami menentangnya.

Bukan karena kami tidak pernah memikirkannya.

Justru sebaliknya.

Kami terlalu sering memikirkannya.

Dan mungkin karena itu pula kami tidak pernah membahasnya.

Topik itu muncul secara tidak sengaja.

Seperti kebanyakan hal besar dalam hidup.

Hari Minggu.

Aku dan Rendra sedang makan siang di rumah kakaknya.

Keponakan Rendra yang berusia tiga tahun sedang berlari-lari di ruang tamu sambil membawa dinosaurus plastik.

Atau mungkin naga.

Sulit dibedakan.

“Awas!” teriaknya.

“Ada monster!”

Lima detik kemudian ia menabrak meja.

Menangis.

Lalu kembali berlari.

Anak-anak benar-benar makhluk yang tangguh.

Aku tertawa melihatnya.

Kemudian tanpa sadar menoleh ke arah Rendra.

Dan menemukan ia sedang memperhatikan anak itu.

Terlalu lama.

Terlalu diam.

“Apa?” tanyaku.

Ia tersenyum kecil.

“Nggak ada.”

Pembohong.

Aku mengenal wajah itu.

Wajah yang muncul ketika ia sedang memikirkan sesuatu.

Dan ternyata aku benar.

Dalam perjalanan pulang, ia tiba-tiba berkata:

“Menurut kamu aku bakal jadi ayah yang baik nggak?”

Aku hampir tersedak minuman.

“Apa?”

“Aku cuma nanya.”

“Tiba-tiba banget.”

“Karena aku baru lihat Kevin tadi.”

Kevin.

Keponakannya.

Ah.

Masuk akal.

Sedikit.

Namun tetap saja.

Pertanyaan itu membuat sesuatu dalam diriku menegang.

Karena ini pertama kalinya kami membahasnya secara langsung.

“Aku rasa iya.” kataku akhirnya.

Rendra mengangkat alis.

“Segitu aja?”

“Mau aku bikin presentasi?”

“Itu bisa membantu.”

Aku tertawa.

Namun kemudian menjadi serius.

“Kamu sabar.” kataku.

“Hm.”

“Kamu perhatian.”

“Hm.”

“Kamu juga selalu berusaha memperbaiki diri.”

Ia tersenyum kecil.

“Jadi?”

Aku mengangkat bahu.

“Aku rasa anakmu bakal beruntung.”

Untuk beberapa detik…

Rendra tidak mengatakan apa-apa.

Lalu ia berkata:

“Aku nggak yakin.”

Dan untuk pertama kalinya hari itu…

Lihat selengkapnya