Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #19

Hari Ke 180

Hari ke-180.

Enam bulan.

Setengah tahun.

Separuh dari simulasi.

Separuh dari perjanjian yang dulu terasa sangat panjang.

Dan sekarang?

Rasanya terlalu cepat.

Aku membuka mata pukul enam pagi.

Rendra masih tertidur.

Ia pulang lagi untuk akhir pekan.

Dan entah kenapa, aku masih belum terbiasa dengan kenyataan bahwa aku bisa merindukan seseorang sebanyak ini.

Aku mengambil binder hitam dari rak.

Benda yang menjadi saksi semuanya.

Ketakutanku.

Pertengkaran kami.

Perjalanan kami.

Air mataku yang terlalu sering.

Dan tulisan-tulisan yang sekarang terasa seperti ditulis oleh orang lain.

Aku membawanya ke ruang tamu.

Membuka halaman pertama.

Dan mulai membaca.

Hari ke-1.

Aku membaca ulang tulisan itu.

Tulisan Asha enam bulan lalu.

Tulisan seorang perempuan yang membuat daftar aturan untuk melindungi dirinya sendiri.

Tulisan seseorang yang percaya bahwa cinta harus diuji sebelum dipercaya.

Tulisan seseorang yang bahkan tidak yakin pernikahan ini akan berhasil.

Aku tersenyum.

Sedikit.

Lalu tertawa.

“Apa?”

Suara serak Rendra muncul dari belakang.

Aku menoleh.

Ia berdiri di ambang pintu kamar.

Rambut berantakan.

Masih setengah mengantuk.

“Kamu terlihat jelek.” kataku.

“Selamat pagi juga.”

Aku tertawa.

Dan menunjuk binder.

“Ayo sini.”

Rendra mengernyit.

Namun tetap datang.

Duduk di sampingku.

Lalu aku menyerahkan binder itu.

“Baca.”

Dan beberapa menit kemudian…

Aku menyaksikan suamiku membaca versi lama diriku.

Ekspresinya berubah berkali-kali.

Bingung.

Terhibur.

Tersinggung.

Kemudian terhibur lagi.

“Aku nggak percaya kamu pernah memberi aturan kalau kita harus evaluasi hubungan setiap bulan.”

“Itu ide bagus.”

“Itu ide psikopat.”

“Aku psikolog.”

“Itu berbeda.”

Aku tertawa.

Namun semakin banyak halaman yang kami baca…

Semakin sedikit kami bercanda.

Karena perlahan-lahan kami mulai melihat sesuatu.

Perubahan.

Yang dulu tidak terlihat karena terjadi sedikit demi sedikit.

“Asha.”

“Hm?”

“Kamu berbeda.”

Aku tersenyum.

“Kamu juga.”

Dan itu benar.

Sangat benar.

Aku melihat tulisan-tulisan lamaku.

Ketakutan yang dulu terasa begitu besar.

Kecemasan yang dulu terasa begitu nyata.

Sebagian masih ada.

Namun tidak lagi mengendalikan hidupku.

Dan Rendra…

Ia juga berubah.

Lihat selengkapnya