(Sudut Pandang Rendra)
Hari ke-198.
Ada banyak hal yang tidak pernah kuceritakan pada Asha.
Bukan karena aku ingin menyembunyikannya.
Bukan karena aku tidak percaya padanya.
Melainkan karena beberapa perasaan terlalu sulit dijelaskan.
Dan jika dijelaskan dengan buruk…
Mereka bisa terdengar seperti kebohongan.
Aku masih ingat hari ketika Asha mengajukan ide paling aneh yang pernah kudengar.
Simulasi pernikahan.
Bahkan sekarang, hampir tujuh bulan kemudian, kalimat itu masih terdengar tidak masuk akal.
Kami duduk di sebuah kafe.
Hujan turun di luar.
Asha terlihat gugup.
Sangat gugup.
Ia memegang gelas kopinya terlalu erat.
Tanda yang bahkan saat itu sudah kukenal.
“Aku punya usul.” katanya.
Dan aku tahu.
Kalau Asha berkata seperti itu, biasanya hidupku akan menjadi lebih rumit.
Aku benar.
“Aku mau kita menikah.”
Aku hampir tersedak kopi.
Kemudian ia melanjutkan:
“Tapi cuma satu tahun.”
Dan di situlah aku benar-benar kehilangan kemampuan berpikir.
Banyak orang mungkin mengira aku langsung menolak.
Aku tidak.
Lucunya…
Aku bahkan tidak butuh waktu terlalu lama untuk mempertimbangkannya.
Karena saat Asha menjelaskan alasannya…
Aku tidak benar-benar mendengarkan kata-katanya.
Aku mendengarkan ketakutannya.
Dan itu berbeda.
Orang sering fokus pada apa yang diucapkan seseorang.
Padahal yang lebih penting adalah alasan mereka mengucapkannya.
Asha berbicara tentang kepastian.
Tentang evaluasi.
Tentang aturan.
Tentang jalan keluar.
Namun yang kudengar hanyalah:
Aku takut.
Dan entah kenapa…
Hatiku langsung hancur sedikit.
Karena aku mencintainya.
Dan ternyata orang yang kucintai begitu takut mencintaiku kembali.
“Aku setuju.” kataku hari itu.
Asha terlihat terkejut.
Sangat terkejut.
Seolah ia sudah mempersiapkan seratus argumen untuk meyakinkanku.
Dan aku menghancurkan semuanya dalam satu kalimat.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku tersenyum.
Dan berbohong.
Sedikit.
“Aku penasaran.” kataku.
Padahal bukan itu alasannya.
Sama sekali bukan.
Alasan sebenarnya jauh lebih sederhana.
Aku setuju karena aku ingin tinggal.
Jika satu tahun adalah satu-satunya bentuk cinta yang bisa diterima Asha saat itu…