Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #22

Hari Ke 200

Hari ke-200.

Dua ratus hari.

Aku seharusnya merasa bangga.

Atau sentimental.

Atau setidaknya cukup dewasa untuk membuat refleksi hidup yang indah.

Sebaliknya…

Aku sedang berjongkok di lantai sambil mencari anting yang hilang.

Hidup memang punya selera humor yang buruk.

“Aku menyerah.” gumamku setelah lima belas menit.

Namun tepat ketika hendak berdiri…

Aku melihat sesuatu di bawah sofa.

Sebuah buku catatan kecil.

Hitam.

Tipis.

Bukan milikku.

Aku langsung mengenalinya.

Milik Rendra.

Ia pulang ke Bandung kemarin pagi.

Dan sepertinya meninggalkan ini.

Awalnya aku hanya berniat menyimpannya.

Menunggu sampai ia kembali.

Sungguh.

Itu niat awalku.

Lalu aku melihat secarik kertas terjepit di tengah halaman.

Dan rasa ingin tahu adalah kelemahan terbesar umat manusia.

Termasuk aku.

“Sedikit saja.” kataku pada diri sendiri.

Kalimat yang selalu menjadi awal dari keputusan buruk.

Aku membuka halaman itu.

Dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kulihat.

Bukan rahasia besar.

Bukan pengakuan.

Bukan surat cinta.

Hanya daftar.

Daftar sederhana.

Judulnya:

Hal-hal yang Membuatku Bertahan

Aku mengernyit.

Lalu membaca poin pertama.

1. Kopi pagi.

Normal.

2. Hujan yang turun saat aku tidak perlu keluar rumah.

Masuk akal.

3. Pesan dari Asha saat makan siang.

Aku berhenti.

Sebentar.

Kemudian membaca lagi.

4. Mendengar Asha tertawa saat lupa kalau dia sedang marah.

Mataku berkedip.

Lalu poin berikutnya.

5. Melihat Asha tidur dengan buku masih di tangannya.

Dan berikutnya.

6. Cara Asha selalu mengatakan “aku baik-baik saja” padahal jelas tidak.

Aku langsung menutup buku itu.

Lalu membukanya lagi.

Karena mungkin aku salah baca.

Ternyata tidak.

Aku membaca lebih jauh.

Dan perlahan…

Dadaku mulai terasa aneh.

Karena halaman demi halaman berisi hal yang sama.

Tentang aku.

Hal-hal kecil.

Sangat kecil.

Hal-hal yang bahkan tidak kuingat pernah terjadi.

Namun entah bagaimana diingat olehnya.

Hari ke-27.

Asha tertawa karena salah mengucapkan nama restoran.

Lihat selengkapnya