Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #23

Aku Sudah Tahu

Hari ke-213.

Ada momen-momen tertentu dalam hidup yang tidak terasa besar saat terjadi.

Tidak ada musik latar.

Tidak ada hujan dramatis.

Tidak ada kesadaran mendadak yang membuat dunia berhenti berputar.

Kadang-kadang…

Kita baru menyadari hidup kita berubah setelah perubahan itu selesai terjadi.

Aku pikir aku sedang mengalami hal itu.

Karena selama beberapa minggu terakhir…

Ada sesuatu yang berbeda.

Bukan pada Rendra.

Pada diriku sendiri.

Aku berhenti menghitung.

Aku baru menyadarinya saat membuka binder pagi itu.

Hari ke-213.

Dan aku tidak tahu berapa hari lagi sampai tahun pertama berakhir.

Dulu aku selalu tahu.

Hari ke-17.

348 hari tersisa.

Hari ke-52.

313 hari tersisa.

Hari ke-100.

265 hari tersisa.

Aku selalu menghitung.

Karena simulasi ini adalah hitung mundur.

Atau setidaknya dulu begitu.

Sekarang?

Aku tidak ingat.

Dan hal itu membuatku terdiam cukup lama.

Karena mungkin…

Tanpa sadar…

Aku sudah berhenti menunggu akhir.

Hari itu berjalan biasa saja.

Aku bekerja.

Makan siang.

Menjawab email.

Mendengarkan klien bercerita tentang kehidupannya.

Namun di sela-sela semua itu…

Pikiranku terus kembali pada satu hal.

Aku sudah tahu.

Aku sudah tahu apa yang kuinginkan.

Dan justru itulah masalahnya.

Karena mengetahui sesuatu tidak selalu membuatnya mudah diucapkan.

Malamnya.

Rendra menelepon.

Video call seperti biasa.

Namun kali ini aku hampir tidak mendengar apa yang ia katakan.

Bukan karena tidak tertarik.

Melainkan karena aku terlalu sibuk memperhatikannya.

Cara ia berbicara.

Cara ia menggerakkan tangan.

Cara ia mengerutkan dahi saat menjelaskan sesuatu.

Hal-hal kecil.

Hal-hal yang sekarang terasa begitu akrab.

Seolah sudah menjadi bagian dari hidupku sejak lama.

Padahal belum genap setahun.

“Asha.”

“Hm?”

“Kamu nggak mendengarkan.”

Aku tersentak.

“Aku dengar kok.”

“Oke.”

Ia menyipitkan mata.

“Aku tadi ngomong apa?”

Sial.

Aku tertangkap.

“Ada kata-kata.”

Rendra tertawa keras.

“Itu jawaban terburuk yang pernah kudengar.”

“Aku sedang berpikir.”

“Nah.”

Ia menunjuk layar.

“Itu dia.”

“Apa?”

“Kamu punya wajah khusus kalau lagi overthinking.”

Aku memutar mata.

“Ternyata menikah membuat seseorang terlalu observatif.”

“Ternyata menikah membuat seseorang terlalu mudah dibaca.”

Aku benci saat dia benar.

Yang berarti cukup sering.

“Asha.”

“Hm?”

“Kamu mau cerita?”

Lihat selengkapnya