Hari ke-241.
Kadang hidup memiliki waktu yang buruk.
Sangat buruk.
Tepat ketika semuanya mulai terasa tenang.
Tepat ketika aku berhenti takut.
Tepat ketika aku mulai percaya bahwa kebahagiaan tidak selalu diikuti oleh kehilangan.
Masa lalu mengetuk pintu lagi.
Dan kali ini…
Ia tidak datang sendirian.
Hari itu dimulai seperti hari-hari biasa.
Aku sedang bekerja ketika resepsionis mengetuk pintu ruang konsultasiku.
“Mbak Asha?”
“Hm?”
“Ada seseorang yang ingin bertemu.”
Aku mengernyit.
“Klien?”
“Bukan.”
Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat perutku langsung tidak nyaman.
Sesuatu yang salah.
Kemudian ia menyebut nama itu.
Dan dunia berhenti.
Ayah.
Aku tidak langsung bergerak.
Tidak langsung menjawab.
Tidak langsung bernapas.
Karena otakku membutuhkan beberapa detik untuk memahami apa yang baru saja kudengar.
Ayah.
Orang yang tidak kulihat selama bertahun-tahun.
Orang yang lebih sering hidup dalam mimpi burukku daripada dalam kenyataan.
Orang yang menjadi alasan mengapa aku membuat simulasi pernikahan sejak awal.
Ada di luar.
Menungguku.
Aku tidak ingat bagaimana aku berjalan ke lobi.
Aku hanya ingat detak jantungku.
Terlalu cepat.
Terlalu keras.
Dan kemudian…
Aku melihatnya.
Lebih tua.
Rambutnya lebih banyak uban.
Bahu yang dulu terlihat besar kini sedikit membungkuk.
Wajahnya dipenuhi garis-garis yang tidak ada dalam ingatanku.
Namun tetap saja.
Aku mengenalinya.
Sayangnya.
Aku mengenalinya.
“Asha.”
Suaranya membuat seluruh tubuhku menegang.
Karena tiba-tiba aku berusia sepuluh tahun lagi.
Tiba-tiba aku kembali menjadi anak yang menunggu.
Menunggu telepon.
Menunggu kunjungan.
Menunggu janji yang tidak pernah ditepati.
“Apa yang Ayah lakukan di sini?”
Nada suaraku lebih dingin daripada yang kumaksudkan.
Namun tidak cukup dingin.
Tidak pernah cukup dingin.
Ia tersenyum kecil.
Aku membencinya.
Karena senyum itu masih sama.
Dan sebagian kecil diriku masih mengingat saat senyum itu membuat dunia terasa aman.
“Aku cuma mau bicara.”
Aku tertawa.
Pendek.
Tanpa humor.
“Setelah bertahun-tahun?”