Hari ke-244.
Selama hidupku, aku selalu berpikir bahwa ada satu cerita yang tidak pernah berubah.
Ayah pergi.
Ibu bertahan.
Aku terluka.
Selesai.
Itulah versi yang kusimpan selama bertahun-tahun.
Versi yang sederhana.
Versi yang mudah dipahami.
Versi yang memberiku seseorang untuk disalahkan.
Dan mungkin…
Itulah sebabnya aku begitu takut bertemu ayah lagi.
Karena jika cerita itu berubah…
Aku tidak tahu harus menjadi siapa.
Tiga hari setelah pesan itu.
Aku akhirnya membalas.
Hanya dua kata.
Kita bertemu.
Dan setelah mengirimnya…
Aku langsung menyesal.
Namun sudah terlambat.
Aku tidak memberi tahu ibuku.
Belum.
Aku juga tidak memberi tahu siapa pun selain Rendra.
Karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa mendengar ketakutanku tanpa mencoba memperbaikinya.
“Aku ikut.” katanya saat mendengar rencanaku.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Asha.”
“Tidak.”
Ia menatapku lama.
Kemudian mengangguk.
“Oke.”
Aku berkedip.
“Hah?”
“Aku bilang oke.”
“Kamu nggak maksa?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Ia tersenyum kecil.
“Karena kamu nggak butuh penjaga.”
Dadaku menghangat.
Kemudian ia menambahkan:
“Tapi aku akan menunggu di dekat situ.”
Aku tertawa sambil menggeleng.
Tentu saja.
Tentu saja dia akan begitu.
Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe kecil.
Tempat netral.
Tempat yang tidak memiliki kenangan.
Tempat yang tidak berpihak pada siapa pun.
Dan mungkin itu yang kubutuhkan.
Ayah sudah datang lebih dulu.
Saat melihatku masuk…
Ia berdiri.
Aku tetap membencinya.
Namun untuk pertama kalinya…
Aku juga melihat sesuatu yang lain.
Ia tampak lelah.
Sangat lelah.
Bukan lelah sehari.
Lelah bertahun-tahun.
“Asha.”
Aku duduk.
Tanpa menjawab.
Tanpa tersenyum.
Tanpa membantu.
Jika ia ingin berbicara…
Maka ia yang harus memulai.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Tua.
Sedikit kusut.
Dan sangat familiar.
Karena aku mengenali tulisan tangan di bagian depan.
Tulisan tangan ibuku.
Dadaku langsung menegang.
“Apa itu?”
Ayah menatap amplop itu.
Lama.
Kemudian menjawab: