Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #26

Aku Memilihmu

Hari ke-263.

Ada kalimat-kalimat yang mengubah hidup seseorang.

Bukan karena indah.

Bukan karena puitis.

Bukan karena sempurna.

Melainkan karena akhirnya diucapkan.

Selama berbulan-bulan, aku hidup di antara dua dunia.

Dunia tempat aku mencintai Rendra.

Dan dunia tempat aku masih takut mengakuinya sepenuhnya.

Namun setelah surat ibu.

Setelah pertemuan dengan ayah.

Setelah semua yang terjadi.

Aku lelah bersembunyi.

Bukan dari Rendra.

Dari diriku sendiri.

Hari itu adalah hari Sabtu.

Rendra pulang dari Bandung untuk akhir pekan.

Dan aku sudah memutuskan.

Hari ini.

Tidak ada penundaan.

Tidak ada alasan.

Tidak ada ketakutan.

Hari ini aku akan mengatakan semuanya.

Masalahnya…

Aku lupa bahwa hidup suka bercanda.

Karena ternyata…

Rendra juga memiliki rencana.

Dan kami berdua sama-sama tidak tahu.

Pukul enam sore.

Aku berdiri di dapur.

Berjalan mondar-mandir.

Menyusun kalimat.

Menghapusnya.

Menyusun lagi.

Menghapus lagi.

Seorang psikolog.

Tidak mampu mengungkapkan perasaannya sendiri.

Ironis.

Sangat ironis.

“Asha.”

Aku tersentak.

Rendra muncul dari ruang tamu.

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa.”

Ia menatapku.

Lama.

Kemudian berkata:

“Kamu jalan bolak-balik seperti orang yang mau mengaku membunuh seseorang.”

Aku memukul lengannya.

Pelan.

Namun cukup keras untuk membuatnya tertawa.

“Malam ini keluar yuk.” katanya.

Aku mengernyit.

“Keluar?”

“Hm.”

“Kenapa?”

Ia tersenyum.

Dan senyum itu langsung membuatku curiga.

“Aku cuma mau ngajak istriku jalan.”

“Aneh.”

“Aku tersinggung.”

“Bagus.”

Satu jam kemudian kami berada di tempat favorit kami.

Bukan restoran mewah.

Bukan tempat romantis.

Melainkan taman kota kecil tempat kami pernah berjalan pada bulan pertama pernikahan.

Tempat yang sederhana.

Namun penuh kenangan.

Malam itu angin bertiup pelan.

Lampu-lampu taman menyala hangat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Bandung.

Pekerjaan.

Ayah.

Masa lalu.

Semuanya terasa jauh.

Yang tersisa hanya kami.

“Asha.”

“Hm?”

“Kamu ingat pertama kali kita datang ke sini?”

Aku tertawa kecil.

“Tentu.”

“Kamu marah karena aku beli kopi yang salah.”

“Aku tidak marah.”

“Kamu diam tiga puluh menit.”

“Itu refleksi diri.”

“Itu marah.”

Aku memutar mata.

Dan ia tertawa.

Suara favoritku.

Lihat selengkapnya