Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #27

Hari Ke 365

Hari ke-365.

Satu tahun.

Tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu…

Aku berdiri di depan cermin.

Memakai gaun putih.

Dan mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan keputusan bodoh.

Hari itu aku menikah dengan seorang pria yang kucintai.

Dan pada saat yang sama…

Aku menyiapkan jalan keluar darinya.

Ironis.

Sangat ironis.

Namun begitulah aku saat itu.

Seseorang yang ingin dicintai.

Namun takut mempercayai cinta.

Hari ke-365.

Pagi ini aku berdiri di depan cermin yang sama.

Tidak ada gaun putih.

Tidak ada pesta.

Tidak ada tamu.

Hanya aku.

Dan cincin yang terasa jauh lebih ringan dibanding setahun lalu.

Karena sekarang aku tidak lagi memakainya sebagai percobaan.

Aku memakainya sebagai pilihan.

“Dari tadi ngapain?”

Aku menoleh.

Rendra berdiri di ambang pintu.

Rambut berantakan.

Kaos kusut.

Masih setengah mengantuk.

Aku tersenyum.

Dan tiba-tiba merasa sangat bahagia.

Tanpa alasan besar.

Tanpa kejadian luar biasa.

Hanya karena dia ada di sana.

“Aku lagi nostalgia.” kataku.

“Itu terdengar tua.”

“Kita memang bertambah tua.”

“Kasar.”

Aku tertawa.

Dan ia ikut tertawa.

Suara yang sudah menjadi bagian dari rumah ini.

Bagian dari hidupku.

Bagian dari diriku.

Hari ini tidak ada perayaan besar.

Kami sepakat seperti itu.

Karena sepanjang tahun ini…

Kami sudah melalui cukup banyak momen besar.

Hari ini kami hanya ingin hidup.

Sesederhana itu.

Kami sarapan bersama.

Berdebat soal menu.

Seperti biasa.

Rendra ingin mi instan.

Aku ingin makanan sehat.

Tidak ada yang menang.

Kami memesan makanan.

Pernikahan adalah seni mencari jalan tengah.

Siang hari.

Kami berjalan ke taman yang sama.

Taman tempat Rendra bertanya apakah aku mau tetap menjadi istrinya.

Dan aku masih merasa jantungku berdebar saat mengingatnya.

Memalukan.

Namun menyenangkan.

“Kamu tahu?” katanya saat kami duduk di bangku taman.

“Hm?”

“Aku dulu yakin kita nggak akan sampai sini.”

Aku menoleh tajam.

“Apa?”

“Aku bercanda.”

“Kamu hampir mati.”

Ia tertawa keras.

Lihat selengkapnya