Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)

lidia afrianti
Chapter #28

Epilog

Lima tahun kemudian.

Ada hal lucu tentang masa depan.

Saat berusia dua puluh sembilan tahun, aku menghabiskan begitu banyak waktu mencemaskannya.

Bagaimana jika pernikahanku gagal?

Bagaimana jika aku memilih orang yang salah?

Bagaimana jika suatu hari cinta kami habis?

Bagaimana jika aku terluka seperti ibuku?

Aku membuat simulasi.

Binder.

Aturan.

Evaluasi.

Seolah hidup bisa diprediksi jika aku cukup hati-hati.

Ternyata tidak.

Karena lima tahun kemudian…

Hal terbesar dalam hidupku justru sesuatu yang tidak pernah masuk dalam rencana.

“IBUUUUU!”

Suara kecil itu menggema dari ujung rumah.

Aku menutup mata.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lalu menarik napas panjang.

“Kenapa lagi?”

Seorang anak perempuan berusia empat tahun berlari ke ruang kerja.

Rambutnya berantakan.

Kaosnya terbalik.

Dan salah satu kaus kakinya hilang.

Seperti biasa.

“Ibu!”

“Apa?”

“Papa bilang dinosaurus nggak boleh makan kue.”

Aku berkedip.

Lalu menatap ke arah dapur.

“RENDRA!”

Dari kejauhan terdengar suara:

“ITU BENAR!”

“Aku nggak tanya!”

“TAPI AKU MAU MEMBELA DIRI!”

Aku memijat pelipis.

Sementara anak kami tertawa keras.

Ya.

Anak kami.

Masih terasa aneh mengatakannya.

Bahkan setelah empat tahun.

Namanya Nara.

Dan jika ada seseorang yang berhasil mewarisi sifatku dan Rendra sekaligus…

Maka itu adalah dia.

Nara mewarisi kecenderunganku untuk bertanya terlalu banyak.

Dan mewarisi bakat Rendra untuk membuat kekacauan.

Kombinasi yang sangat berbahaya.

“Ibu.”

“Hm?”

“Papa salah kan?”

“Tentang dinosaurus?”

“Iya.”

Aku berpikir.

Sangat serius.

Kemudian mengangguk.

“Tentu saja.”

Nara langsung bersorak.

Dari dapur terdengar suara protes.

“PENGKHIANATAN!”

Aku tertawa.

Dan Nara ikut tertawa.

Suara yang membuat rumah ini terasa penuh.

Rumah.

Aku masih suka kata itu.

Lihat selengkapnya