Pagi sudah tiba, perlahan langit timur menjadi terang, cahaya matahari sedikit terhalang awan. Semua terasa remang bagi Kirana, disekolah dikelilingi banyak orang tetapi tersa sepi. Semua menjaga jarak karena suatu hal dan hanya satu yang berani yaitu Usi, teman perempuannya.
Kini semu kumpul dimeja makan, seorang pelayan menyajikan makanan. "Kak Sen, nanti tolong kepasar lagi, ada keperluan dapur yang kurang", ucap Marisa.
Marisa adalah ibu tiri Kirana, tetapi dia perempuan yang baik, tidak seperti ibu tiri disinetron. Melihat Kirana yang terpaku mengugahnya untuk bicara.
"Kirana, kamu kenapa ?", tanya Marisa
Menggeleng " Tidak Bu, cuma ingat sesuatu disekolah"
"Apa ada masalah ?"
"Tidak"
Seorang lelaki empat puluhan, raut wajah selalu tegang. Terkesan seperti bos dari kalangan pereman, wajah itu sama sekali tidak bersahabat.
"Pasti ada, kalau tidak ngapain sikap dia begitu", ucap lelaki itu
Kesempatan bagi saudari tiri beraksi, untuk cari muka. Mata jahatnya terlihat jelas, momen itu adalah waktu yang tepat memperkeruh suasana.
"Ya ada yah, tapi dia takut bilang", ucap Marli
Tena menghantam meja, "Bicara yang jujur !"
Itu membuat kaget Kirana, dia terlihat bingung dengan yang terjadi. Marisa coba untuk menengahi, agar suasana tidak semakin kacau.
"Bisakah kau tanya baik-baik Tena, dia itu anak kandungmu"
"Karena dia anak kandungku, makanya harus tegas"
Marli senyum tipis dengan yang terjadi, baginya suasana runyam itu adalah tontonan yang menarik.
Marisa menggeleng, "Kalau begini siapa yang akan mau jujur, lihat Kirana ketakutan dan aku eneg lihat begini"
Melirik Marli, "Kecuali seseorang, ini keributan adalah tambang emas"
"Maksudmu?"
"Harusnya kau peka siapa, jika begini jangan salahkan jika kau punya banyak musuh"
"Pagi-pagi mau ngajak ribut !"
Suasana itu semakin panas, tidak ada kesempatan lagi bagi Kirana untuk menjelaskan. Ia merogoh ransel, mengambil buku tulis dan menyobek bagian tengah. Dengan bantuan pulpen ia menulis yang mau dikatakan.
Lalu menaruhnya dihadapan Tena, tanpa sarapan ia langsung pergi. Mereka masih berdebat, perlahan Marli mencoba mengambil. Tetapi tangan dicegal Marisa, ia membeku sesaat.
"Mau kau apakan pesan dari Kirana !"
Tidak ada kata yang keluar, Tena melotot tajam, secara kasar ketas itu diambil kasar oleh Marissa.
Membuka, lalu dibaca, "Pagi ini aku kira bisa secerah matahari, tapi mendung, seperti hatiku, satu-satunya masalah disekolah hanya satu, satu-satunya teman yang aku miliki akankah mampu bertahan, semua tahu siapa dan bagaimana Kirana"
Menatap tajam Tena, "Tidak terbayangkan hidup anakmu ini, dari tiga puluh orang dikelas, cuma punya satu teman"
Marli tidak sependapat, "Itu salah dia kenapa kuper"
Menunjuk, "Tutup mulutmu Marli ! Kalau kamu anggap dia saudari, harusnya bantu !"