Sinar-Sinar Cinta

Novia dewi
Chapter #3

Benih Rasa

Sesuai yang ditentukan, kegiatan sekolah hari ini adalah pembersihan lingkungan kelas. Semua murid antusias menunjukkan kinerja terbaik mereka. Kirana sangat senang dibagian ini, pikirannya terasa plong, karena seluruh kekotoran bisa dibersihkan.

"Disini aku melakukan bersih-bersih dihargai, ketimbang dirumah, mau beberes apapun tetap saja tidak terlihat", dalam hati

Menggenggam erat gagang sapu ijuk, "Dirumah pasti Marli mengklaim, dimuka dua itu..."

Menarik nafas, "Tetapi disini dia tidak bisa, kelasku dan dia berbeda dan jauh", batinnya

Kini Kirana bertugas membuang sampah bersama seorang siswi, saat di pertengahan. Marli bersama seorang temannya sengaja menabrak mereka hingga isi tempat sampah sebagian jatuh.

Secepat mungkin mereka lari, meninggalkan lokasi, Kirana membantu temannya yang jatuh itu.

"Meila, maaf", sambil membantu berdiri

"Sudah, gak apa-apa", mengusap rok yang kotor oleh sedikit debu

"Itu saudara, apa musuh kamu sih? Resek banget!"

Kirana hanya bisa diam, ia tidak berani menilai karena itu bisa sampai pada ayahnya, Tena.

Sambil jalan pincang, "Sudah ya kamu beresin sendiri, aku gak bisa"

Tanpa berkata apapun Kirana memungut itu dengan tangan, sampah berserakan itu cukup merepotkan. Kirana sangat kesal, terlihat saat memungut sampah itu diterkam dan dilempar kasar ke tempat sampah.

Tanpa disengaja saat mengambil sampah, sebuah tangan juga mengambil sampah yang sama. Kirana mencengkram jari tangan itu, merasa aneh ia menoleh. Terperangah dengan cepat dilepaskan, yang dihadapanya sungguh mengagetkan.

Dihadapannya seorang anak cowok, terlihat dari celana panjang abu-abu dan seragam olahraga itu, dia murid SMA.

"Mau kakak bantu?"

Kirana mengangguk, mereka bersama menuju ke TPA sekolah, yang berada dibelakang sekolah.

Setelah membuang sampah, "Makasih ya Kak. Kalau yang lain pasti cuek," ucapnya hanya tersenyum. 

"Oh ya, kalau boleh tahu namanya siapa Kak?" tanya gadis itu.  

"Aku Nasua Kelana, teman panggil aku Nasua," menyodorkan tangan.  

"Kalau aku Teri Kirana Yanti, teman-temanku panggil aku Kirana," menjabat tangan Nasua.  

Sambil mendorong tempat sampah itu berdua, "Kak Nasua kelas berapa, kalau boleh tahu?" ucap Kirana polos.  

"Kelas sebelas IPS dua. Kalau kamu kelas berapa?" ucapnya.  

"Em kelas tujuh C Kak," sahutnya. Ia melempar senyuman manis pada Kirana.  

Dalam hati terbesit sesuatu, "Oh ya Kak, kalau di SMA ada jurusan apa?" tanya Kirana.  

"Em ada tiga, IPA, IPS sama Bahasa. Memang kalau SMA nanti mau pilih jurusan apa?" tanya Nasua.  

"Tidak tahu. Memang beda ya IPA, IPS sama Bahasa?" tanyanya.  

Mereka pun mendorong tempat sampah itu.  

"Ya beda lah... Kalau IPA sama Bahasa kakak kurang tahu. Tapi kalau IPS, mata pelajarannya yang utama itu Ekonomi, Akuntansi, Sosiologi sama Geografi. Kalau dijelasin satu-satu akan panjang. Sebaiknya Kirana tanya sama guru saja, mereka pasti bisa kasih tahu kamu," ucapnya.  

Tanpa sadar mereka telah di depan kelas. Ketika menaruh tempat sampah itu, tiba-tiba ada siswa SMA yang mendekat,  

"Yak elah... disuruhin malah bantu dorong. Buruan kita kembali ke kelas dah," ucapnya.  

"Maaf ya... kakak harus pergi. Sampai ketemu lagi," ucap Nasua, lalu tersenyum dan melambaikan tangan.  

Kirana pun membalas lambaian itu. Ia tampak memperhatikan langkahnya.  

"Ahem... siapa tuh...?!" ucap seseorang yang mengagetkannya. Kirana memandangnya.  

"Ya malah bengong," ucapnya.  

"Huh... Usi... aku kira kamu tuh si Marli," ucapnya mengusap dada.  

"Beda-in dong... suaraku tidak mendengking kayak dia," ucap Usi.  

"Oh... kita ke kantin dulu yuk," ajak Kirana.  

"Ya... ya..." sahutnya.  

Mereka pun berjalan ke kantin dengan segumblah murid. Setelah selesai membeli makan dan minum, mereka kembali dan duduk di teras belakang kelas.


Lihat selengkapnya