Sinar-Sinar Cinta

Novia dewi
Chapter #4

Rasa Terbesar

Waktu berlalu, hari yang ditentukan pun tiba. Sesuai tugas mereka ke tempat yang ditentukan, kembali Naswa dan teman-teman ke SMP itu lagi. Semua sudah tampak siap, semua murid SMP memakai seragam putih biru berpenampilan rapi, semua menonjolkan kedisiplinan dan kesopanan. Tim penilai tingkat nasional tiba. Mereka pun menjalankan tugas mereka menilai apa sepatutnya. Setelah itu semua dikumpulkan diaula. Setelah

Perwakilan menyampaikan kesannya. Tampak apa yang diungkapkan menunjukkan penilaian baik mengenai sekolah itu.

Setelah selesai tim panitia kembali, semua masih tampak berkumpul di aula.

Kapsek pun memberi pesan dan pengarahan lalu berdoa bersama. Kini acara pun selesai, mereka pun bubar, tampak para murid desak-desakan keluar. Kirana melihat Marli keluar duluan. Ketika hendak keluar ia bersenggolan dengan seseorang, lalu ditoleh.

"Eh... kakak," sapa Kirana

"Kamu...," ucap Nasua

Mereka pun menyingkir, agar tidak menghalangi jalan.

"Kak ini siapa ya, aku lupa namanya,"

"Nasua, oh ya namamu siapa ya ?"

"Kirana"

Usi melihat hal itu "Kak Nasua," ucap Usi

Kirana terkejut kaget, "Eh Usi... apa kabar," sapa Nasua

"Baik lah kak," ucap Usi

Kirana terpaku melihat mereka, mereka terlihat sangat dekat dan akrab

"Eh... kalian sudah kenalan," tanyan Usi

Kirana hanya mengangguk, Nasua tersenyum, Usi melihat sekitar.

"Mudah-mudahan Marli tidak lihat" ucap Usi

"Kamu kenal dengan kakak ini Usi ?" tanya Kirana

"Ya kenal... dia tuh sudah kayak saudara, ini orang paling baik sedunia tahu," ucap Usi

"Ah... Jangan berlebihan, malah kamu dan keluarga kamu yang baik sama aku, kalau bukan karena bapak kamu, aku mana bisa ada di sini", ucap Nasua

"Kak Nasua..., jasa kak Nasua sama paman itu tidak sebanding dengan biaya itu, kalau saja tidak ada kakak dan paman kita tidak tahu sudah kayak gimana," ucap Usi

"Memang kenapa?" tanya Kirana

"Dulu aku dan keluarga pernah kecelakaan mobil, gara-gara papa ngantuk kita nabrak pohon, saat itu pas malam. Ibu dan kakak di belakang ya cuma pusing saja, aku dan ayah tidak sadar karena terbentur bagian depan mobil"

Mengingat kembali, "Kata ibu kita diseret jauh, paman bantu ayah dan kak Nasua bantu aku. Belum jauh bawa aku mobil meledak dan Nasua bahunya terbakar karena itu," jelasnya

Kirana seakan tidak percaya.

"Tolong kasih lihat kak," pinta Usi

"Haruskah ?" ucap Nasua

"Iya,"

Lalu ditunjukkan, degan sedikit membuka baju dibagian bahu.

Kirana terbelalak sesaat karena bekas luka yang parah itu, lalu menutup mulut beserta hidung dengan tangannya karena kaget.

"Terus?", desak Kirana.

"Kata Ibu, kami diseret keluar. Paman bantuin Ayah, Kak Nasua bantuin aku. Belum jauh kami jalan, mobilnya meledak"

Suara Usi bergetar. "Kaki sama bahu Kak Nasua sampai terbakar karena nolongin aku."

Kirana membelalakkan mata, tidak percaya. "Boleh aku lihat, Kak?" pinta Usi.

"Harus?" tanya Nasua ragu.

"Iya" jawab Usi mantap.

Nasua akhirnya menunjukkan bekas lukanya.

Kirana spontan menutup mulut dan hidungnya. Matanya membesar karena kaget melihat luka bakar yang begitu parah di tubuh Naswa.

Nasua menutup kembali bajunya, keadaan aula saat ini sudah lengang.

"Sudah ya Usi, tolong jangan terlalu memuji. Kita sesama manusia harus saling membantu, kita kan tidak bisa hidup sendiri"

"Em... keluar nih ilmu sesiologinya..." goda Usi

Nasua pun tertawa kecil. Kirana memandangnya.

"Bahagia sekali orang ini dan senyumnya manis sekali," batin Kirana

Menyadari hal itu, "Kok bengong Kirana?" tanya Nasua.

"Em... tidak," sahut Kirana

"Sudahlah Kirana, yang kemarin jangan dipikirin lagi. Kamu tidak salah," ucap Usi.

"Kalau boleh tahu memang kemarin kenapa?" tanya Nasua penasaran

"Usi jelasin ya, aku males," ucap Kirana

Usi menghela nafas, "Begini kak, beberapa hari yang lalu Kirana dilihat dekat dengan seorang cowok, saudara tirinya marah terus nampar dia, gara-gara aturan ketat ayahnya, tidak boleh dekat dengan laki-laki selain teman sekolah dan guru," jelasnya.

Lihat selengkapnya