Sinar-Sinar Cinta

Novia dewi
Chapter #5

Mencari Penerangan

Waktu berlalu ulangan akhir semester tinggal sebulan, Kirana berencana belajar bersama dengan Usi. Ia melihat ayahnya duduk disofa ruang tamu, tengah membaca koran, terlihat begitu serius membaca.

Lalu ia mendekat, "Ayah boleh aku bicara?"

"Ya... bicara apa?" tanya Tena

"Boleh aku belajar bersama Usi dirumahnya?"

"Kenapa harus kesana, disini sudah ada Marli yang ngajari kamu" tegas Tena

"Ia ya... Kenapa tidak tanya dia saja, dia pintar sekali, tapi kenapa tidak pernah juara umum seperti Usi-"

"Dia hebat tapi kenapa tidak pernah juara di olimpiade atau kompetisi apa pun ?!"

"Apa maksudmu berkata begitu!" tegas Tena

"Aku cuma nanya ayah, Marli bisa seperti yang ayah perintahkan tapi dia tidak bisa seperti yang diharapkan pendidikan-"

"Akademik rangking terakhir, non akademik tidak bertuah dan karakter dapat F"

Tena kesal mendengar itu, koran pagi itu, dipegang kuat hingga terlihat lekukan lecek.

"Apa aku harus meniru dia, sedangkan ada yang lebih untuk aku tiru"

Tena berdiri, membanting koran ke meja dengan menatap tajam Kirana.

Melihat hal itu Marisa serega mendekat, "Ada apa ini ?"

"Anak ini kurang ajar!" ucap Tena

"Kurang ajar bagaimana, memang buat apa Kirana ?!"

"Ibu maaf bisa menjelekkan Marli, karena itu kenyataannya, dia tidak pintar, dia kasar, dia menyebalkan"

Marisa menatap biasa Kirana, mendengarkan hingga selesai.

"Berbeda dengan Usi dia pintar, pengertian dan bersikap baik, aku jadi heran siapa yang sebenarnya saudaraku" ucap Kirana lirih

"Oh... berarti ini ajaran Usi ya...!"

"Dengar ayah! Usi tidak pernah memberi pengaruh buruk, malah baik, peringkat terbelakang bisa naik signifikan dalam waktu tiga bulan"

Tena hendak bergerak untuk bertindak, tetapi ditahan oleh Marisa.

"Dari 30 menjadi peringkat 18 dan UTS kemarin menjadi predikat 15, itu karena Usi yang bantu, bukan Marli", dengan linang air mata.

"Sudah berapa guru khusus didatangkan tapi tidak bisa memberi pengaruh secepat Usi didalam nilai"

Air mata berderai, "Dari seribu murid dan dari tiga puluh murid disekelas, cuma Usi yang mau berteman denganku, walau dia diejeki terlalu begitu" ucapnya


Tena dan Marisa terdiam.

"Siapa yang mau datang kesini bila dibatasi, di jahili sampai segitu takutnya sama Marli"

Muka tegang Tena sedikit mereda, Marisa menatap Tena kecut .

"Apa ayah sudah lupa itu? Aku lihat kalau Marli ada di keramaian murid, tidak ada satu pun yang mau mendekat semua menghindar"

Entah dari mana datangnya, Marli berjalan cepat dengan penuh amarah

"Lalu kamu itu apa! Sama tahu gak!", bentak Marli

Kirana menghapus air mata, "Kamu benar tapi apa penyebabnya? Itu karena ayah yang terlihat sabgar dan ortodok, mereka kasihan padaku, walau tidak terlihat dekat tapi kalau ketemu mereka masih menyapaku"

Tena dan Marli terlihat marah. Marisa kebingungan harus apa dan Kirana menangis tertahan.

"Ayah dan Marli sama, seperti ada ikatan darah, aku jadi bertanya - tanya aku ini anak tiri apa kandung?"

Air mata menetes lagi, "Atau jangan - jangan aku ini anak pungut, pantas ya semua terbatas dan dicekang"

Lalu berjalab dengan cucuran air mata menuju kamar. Ia mengunci rapat pintu kamar.

"Kenapa aku tidak boleh kerumah Usi, aku cuma belajar, aku ingin merasakan hal berbeda, aku ingin tahu seperti apa orang tua Usi lebih dekat lagi-"

"Tuhan kenapa pengekangan ini tidak berakhir, kapan aku bisa seperti yang lain punya kebebasan bergaul, agar aku bisa belajar menghadapi orang - orang, kenapa ayah tidak mau mengerti kenapa?"

Keluh batinnya dengan linangan air mata, dunianya terasa kelam.

"Tuhan... siapa yang akan membantuku mengangkatku dari penderitaan, aku telah memohon ribuan kali agar segera kau kirim peri penolong untukku..." teriak batinnya

Teringat ia akan kasih sayang mendiang ibunya dan keceriaan bersama kakaknya terdahulu, semua telah menjadi kenangan. Ia terdiam cukup lama dalam pembaringan, rasanya ia ingin berteriak, tapi tidak bisa, ia harus menghadapi semuanya sendirian, tidak ada yang membantunya.

"Usi... kapan aku bisa hidup sepertimu, kamu dikelilingi orang yang punya pengertian dan kamu pintar sedangkan aku tidak"

Air mata mulai mengering, "Kamu bisa tahu banyak orang sedangkan aku tidak, kamu masih dapat merasakan kasih sayang orang tua sedangkan aku tidak, aku sendirian" keluhnya dalam batin.


* * *

Teringat ia akan Nasua dan kalimatnya.

"Tolong jangan nangis Kirana, nanti mereka tidak senang denganmu. Kalau tahu rasanya kehilangan, memang tidak segampang bicara, tapi nangis dan membenci itu bukanlah jawaban Kirana" ucap Nasua dalam ingatannya.

Sura pemuda SMA itu kembali terngiang didalam pendengarannya.

"Lapangkan dada Kirana, segala yang baik dan buruk ada makna, dibaliknya untuk mendewasakan kita, kamu harus belajar menerima semua ini" nasehatnya

Terlintas di ingatan, bagaimana Nasua memperlakukannya. Dan caranya menghapus air matanya dengan lembut, penuh perhatian, membuatnya merasa sangat nyaman.

Teringat juga, Usi pernah melakukan hal sama, tapi ada perbedaan yang dirasakannya, ia pun bangun dan duduk sambil membayangkan Nasua.

"Kak Nasua, sedang apa sekarang ?" tanya batinnya

"Andai saat ini kakak bersamaku, pasti ada yang mau mendengarkan ceritaku, kakak yang menghapus air mataku dan mampu menenangkanku, walau cuma dua kali bertemu aku dapat merasakan kedamaian bersama kakak" batinnya

Disisi lain Nasua yang tengah membuat PR, merasakan sesuatu terlintas, dia ingat Kirana yang bersedih siang tadi.

"Kenapa aku ingat Kirana itu, apa ada masalah dengan dia atau dia lagi sedih, hem... aku harap dia baik - baik saja" batinnya

"Tuhan kuatkanlah hati Kirana dan lindungilah dia agar tetap ada dijalan yang benar, wahai alam sampaikan pesan ini" batinnya

Beberapa saat kemudian angin berhembus ditempat Kirana, angin membentur jendela yang memecah suasana hatinya, ia pun bergerak menuju jendela. Ia melihat bulan purnama telah seperempat langit, ia memandang bulan itu cukup lama.

"Bulan yang indah, malam ini terang karena cahaya bulan, tapi hatiku masih tetap gelap, jika hidupku ini seperti malam apakah ada bulan untukku sebagai penerang" ucap hatinya

Ia memejamkan mata melepaskan segala beban, angin membentur kaca jendela lagi, ia kaget, lalu memandang langit yang didiami bulan purnama. Terlintas bayangan Nasua yang tersenyum manis, ia mengusap wajahnya.

"Kenapa bayang kak Nasua lewat, heh... aneh sekali... mungkin ucapan baik itu yang membuatku selalu ingat, dia benar... aku harus belajar" batinnya


* * *

Terdengar suara mengetuk pintu. "Kirana ini ibu" ucap Marisa

Ia membukakan pintu segera, "Ada apa bu ?" tanyanya

"Ikut ibu, ayah mau bicara denganmu"

Ketika diruang tamu, tampak raut wajah Marli kesal, ia mendekat. "Aku harus mengatakannya", batinnya, lalu menghela nafas

"Ayah, Marli maafkan aku sudah berkata kasar, kalian tahu kan kenapa aku begini terlalu gelap rasanya sehingga aku muak jadinya"

Marli meliriknya, lalu berdiri dan pergi dari sana, setelah cukup lama.

"Lalu kapan kamu kerumah Usi ?" tanya Tena

"Besok ayah mumpung hari minggu" ucap Kirana

"Berapa lama ?"

"Tergantung yah, kalau sudah selesai akan aku telepon, paling tiga atau empat jam, aku mau memperdalam fisika dan matematika"

Lihat selengkapnya