Sedari itu tiap minggunya Kirana selalu menulis surat kepada Nasua melalui perantara, Usi. Balasannya datang tiap dua hari setelah dikirim. Kalimat-kalimat yang ditulis Nasua selalu ia pakai panduan untuk merubah sikapnya.
Namun ada yang mengganjal hatinya setelah ulangan selesai, akan ada hari libur semester.
"Setelah libur aku tidak bisa surat-suratan lagi. apa yang harus aku lakukan, pasti bosan dan aku dalam kesepian lagi-"
"Untuk sampai pada tahapan pertama dalam pengendalian diri mentorku tidak bisa diajak komunikasi lagi", gerutu hatinya.
Dalam kecamukan pikiran itu, kala itu ia ada di emperan depan kelas.
"Usi mana ada tes lagi, aku tidak ada teman selama tiga hari, pekan depan" gerutu hatinya.
Tiba-tiba saja ada air yang mengalir di pundaknya, ia seketika terbangun karena itu, ternyata ada Marli.
"Sudah segar rasanya orang aneh, lamunanmu akan semakin membuatmu menderita"
Kirana mengusap bagian yang basah, raut sinis Malri terasa nemuakan di mata kirana.
"Kamu harus menderita Kirana sama seperti kakakmu di neraka sana" ucap Marli
Mendengar kalimat itu membuat dirinya naik pitam, dalam benaknya ia ingin sekali menghantam mulut beracun Marli. Namun ia teringat akan isi surat balasan Nasuva.
"Semua tidak akan selesai dengan emosi, dalam tahapan pertama dalam pengendalian diri adalah emosi, jangan terpengaruh keadaan, yang menentukan dan menyikapi itu, adalah kamu sendiri Kirana", ucap Nasua dalam tulisan
Ia tersenyum, "Kamu benar Marli, aku memang menderita dan kakakku pasti dihukum di neraka, karena bunuh diri"
Buang muka, lalu menatap tajam, "Tapi itu naskah langit Marli, aku akui kamu hebat dan bahagia, tapi lihatlah siapa yang menderita sesungguhnya, kamu!"
Kirana maju selangkah, Marli mundur, kali ini Kirana sudah tidak tahan, karena menyangkut patukan dengan mendiang kakaknya.
"Kamu tidak senang melihat orang lain bersikap berbeda. Kamu tahu rasa iri itu adalah sumber penderitaan", ucap Kirana cukup keras
Para murid yang memandang tepuk tangan, Marli terkejut karena hal itu, mereka memberi tepuk tangan meriah.
"Teman-teman bisa tepuk tangan sekali lagi, kalau setuju dengan ucapanku" ucap Kirana
Tepuk tangan lebih keras lagi terdengar, wajah Marli memerah dia malu sekali dan bergegas meninggalkan tempat itu.
"Hah! Marli... Marli..." ucap hatinya
Senyum tipis, "Kak Nasua kalau lihat ini pasti bilang tidak baik, tapi aku menanggapinya tidak dengan emosi, kakak pasti mengerti hal ini" batinnya
Tidak lama Usi datang, ia melihat Kirana dengan wajah berseri-seri.
Memperhatikan seksama, "Kayaknya senang banget"
Merangkul Usi, "Usi... Ayo duduk ada cerita menarik untukmu" ucap Kirana
Ia bercerita mengenai kejadian tadi.
"Apa...? Kamu bilang gitu sama Marli?!" ucapnya tidak percaya
"Ya, habisnya keterlaluan banget kelakuannya" ucap Kirana
"Aku setuju sih si Marli sekali-sekali digituin"
Sambil berpikir, "Kak Nasua tahu, pasti kasih tanggapan. itu tidak lah baik, nah yang aku pikirin ayahmu...", terpotong
"Ya aku tahu Usi, akan aku katakan saja, kalau jujur tidak akan berbeda penjelasannya karena itu kenyataan"
Senyum berkeyakinan, "Aku mau uji ayah, apa dia bisa bedakan benar salah saat emosi" ucap Kirana
"Ya... terserah kamu saja, tapi ingat jangan sangkutin Kak Nasua kalau kenapa-kenapa, karena Kak Nasua tidak terlibat langsung dalam masalahmu", nasihat Usi
"Ya..." sahutnya.
* * *
Sesuai dengan perkiraan, menjelang malam tampak Marli bicara dengan Tena di teras rumah. Kirana asik menggambar di ruang tamu.
Mendengar langkah kaki, ia menutup buku gambar dan menaruhnya di bawah kolong meja. Ketika langkah itu terhenti ia menoleh, terlihat raut Tena dan Marli tegang.
"Ada apa ayah?" tanyanya santai.
"Tidakkah hatimu itu punya rasa bersalah, beraninya kamu mempermalukan saudaramu di hadapan semua orang", tegas Tena
"Maksud ayah apa? Siapa yang mempermalukan siapa, coba beri tahu aku yang jelas, ayah aku tidak mengerti" ucapnya santai
Dengan raut geram, "Dasar kurang ajar kamu! Kamu ngatai Marli aneh, tiri yang jahat dan tidak tahu diuntung, Marli kamu sebut parasit yang bisanya menggerogoti dan menyakiti kamu!" ucap Tena
"Lalu apa lagi?!"
Marli mulai mengamankan diri, "Eh, Kirana kalau aku tidak ingat dengan ayahmu, aku pasti sudah hajar kamu, aku tahu aku ini seorang tiri, tapi kenapa mesti di hadapan orang-orang Kirana, salahku apa?" ucapnya drama
Lalu datanglah Marisa dari pasar, melihat mereka bertiga ia begegas mendekat. Meninggalkan tas belanja begitu saja didekat pintu masuk ruang tamu.
"Kelihatannya kamu tidak suka aku ada di sini, aku telah berusaha berbuat baik denganmu, lalu aku harus apa lagi Kirana?!"
"Sekarang kamu mau bilang apa Kirana, kalau kamu tidak suka dengan Marli, katakan apa jeleknya tapi tidak di hadapan semua orang!" ucap Tena
Ia menghela nafas, "Ayah... coba tatap mata Marli dan aku, coba lihat perbedaannya", ucap Kirana
Muka masih tegang, "Kenapa begitu?"
"Kata BK, kalau orang berbohong pasti tidak akan berani memandang, ayah sudah tahu bagaimana aku, kalau salah mana berani aku menatap ayah dan bicara sesantai ini"
Ia kembali menjelaskan yang sebenarnya, dengan kata yang sangat meyakinkan dan lembut.
"Ayah kalau aku dibilang aneh atau apa lah... Aku tidak akan berkata apa pun"
Mengepalkan tangan, "Coba pikir ayah siapa yang tidak kesal kalau kalimat seperti ini dikeluarkan" ucapnya
Tangan makin erat dikepala, "Setelah dia nyiram aku dengan air, dia bilang begini, sudah segar rasanya orang aneh, lamunanmu akan semakin membuatmu menderita. kamu harus menderita sama seperti kakakmu di neraka sana, coba ayah siapa yang tidak kesal" ucap Kirana
Tena dan Marisa terkejut, Marli tampak tidak tenang, "Kapan aku bilang gitu, perasaan tidak" ucapnya agak gugup
"Jujur ayah aku kesal dan aku katakan ini, tapi tidak emosian. Kamu benar Marli aku memang menderita dan kakakku pasti dihukum di neraka karena bunuh diri, tapi itu ketentuan langit. Aku akui kamu hebat dan bahagia, tapi lihat siapa yang menderita sesungguhnya, kamu. kamu tidak senang orang lain bersikap berbeda. Kamu tahu rasa ini itu adalah sumber penderitaan", mengulang kembali dihapan ayahnya
Semua tertegun, karena untuk pertama kalinya Kirana seberani itu. "Coba pikir siapa yang terima dikatakan begitu, kalau yang lain pasti sudah mencabik-cabik Marli, aku tidak mau terpancing hal negatif darimu!", menunjuk
Menurunkan tangan, berpaling sebentar, "Aku sudah capek dan sering bermasalah karena itu. Pernahkah kamu berpikir sikapmu itu akan menyakiti orang lain? Tidak kasihan sama ibumu?"
Melirik Marisa sebentar, "Dan ayahmu di akhirat sana pasti kecewa denganmu, dia seorang tokoh agama yang disegani, kenapa sikapmu begini" ucap Kirana tegas
Marli tampak bingung.
"Katakan pembelaanmu sekarang Marli!", desak Marisa
"Aku... aku...", Marli terbata-bata
Melihat tingkah itu Marisa tidak tahan lagi dan menamparnya. "Kamu...! Kamu tidak tahu malu Marli! Kamu pintar sekali cari muka, siapa yang mengajarimu begitu!"
Marli memegang wajah yang ditampar keras itu, ia menahan air mata.
"Dan kali ini kamu keterlaluan, kamu kira ibu tidak tahu itu, kejam kamu memfitnah Kirana!"
Saat hendak menampar lagi, ditahan Kirana.