Sinar-Sinar Cinta

Novia dewi
Chapter #7

Cahaya Samar

Mereka pun duduk dihadapan guru konseling paruh baya itu. Senyum ramah dari lelaki yang sudah kelihatan ubannya.

"Pagi pak" ucap mereka

"Pagi juga. Wah tumben sekali Usi dan Kirana kesini ada apa?", tanya Sinten ramah.

Kirana melirik Usi,"Begini pak Kirana mau konsultasi, ada yang ingin ia katakan"

"Benarkah, bapak kira kamu Usi, memang hal apa yang mau kamu konsultasikan Kirana?", tanya Sinten ramah

"Memang pak, tapi apa aman kalau saya cerita, saya khawatir bapak akan mengatakannya kepada ayah saya"

"Apa pun cerita murid disini pasti aman, kecuali pelanggaran aturan sekolah yang sering dilanggar ya harus diberitahukan kepada orang tua. Kalau masalah pribadi atau uneg-uneg, rahasia dijamin aman"

Ia menoleh keluar jendela sedikit untuk memastikan keadaan aman. Sinten menangkup dagu, "Kalau cerita Kirana ini sangatlah pribadi. Usi bisa bantu, tolong tutup jendela dan buka gordennya"

"Sekarang sudah aman, kamu bisa cerita sekarang"

Kirana menghela nafas panjang.

"Begini pak, harusnya saya tanya hal ini dengan orang tua saya, saya tahu ayah saya tidak suka kalau hal ini saya alami, saya tidak percaya yang lain selain Usi, sayangnya dia pasti tidak paham, bahkan saya sendiri juga tidak paham", jelasnya bertele-tele.

"Apa itu?"

"Usi tahu seseorang ini dengan baik bahkan sudah seperti saudara, saya kenal dia saat lomba tata ruang sekolah kemarin, dia murid SMA. Bagi saya dia itu baik, perhatian dan sekikap ramah. Semua masalah saya, saya katakan sama dia, tapi masalah saya yang satu ini dia tidak paham", jelas Kirana.

"Yak apun Kirana.... cerita yang jelas, nanti keburu Marli nongol", desak Usi.

"Padahal aku tahu Kirana, aku cuma ingin dengar langsung darimu", batin Usi

Ia menghela nafas panjang,"Ada perasaan aneh yang saya alami pak, selama ini kita komunikasi lewat surat. Usi tahu kebiasaan ayah saya kayak apa, surat itu Usi yang jadi kurirnya. dia selalu memberi tanggapan baik dan menuntun saya bertindak"

Jelas Kirana agak gugup, ketingan di telapak tangan terasa.


* * *

Pandangan keduanya tertuju kepada Kirana, rasa deg-degan muncul, ia coba lawan sekuat tenaga.

"Jujur saja pak dia satu-satunya orang yang berani membantu, dulu saat bicara dengan dia, dia memberi kesan baik. Saya merasakan ketulusan dan perhatian"

Menelan ludah, "Paham kondisi saya dan menasihati saya dengan kalimat yang begitu halus sehingga saya dapat merasa dia satu-satunya orang yang paling mengerti, memotivasi dan menguatkan saya"

"Lalu" ucap Sinten

"Disaat saya merasa sendiri dan hampir setiap malam, perhatiannya itu terbayang, walau lewat tulisan saya dapat merasakan dia itu tulus dan seakan dekat dengan saya, kadang saya menghayal ada didekat dia dan memberi perhatian itu, saya sangat berharap dia itu selalu ada didekat saya dan dapat ketemu lagi"

Dengan senyuman "Oh... itu... masalah itu biasa saat remaja, tandanya kamu itu sedang karin dan meriang"

"Karin itu siapa pak?", tanya Usi

"Hah, meriang?"

Bingung, "Tidak pak, saya baik-baik saja", ucap Kirana.

Sinten tertawa kecil. "Benar tidak tahu istilah karin dan meriang?!", ucapnya.

"Ah... bapak ini yang jelas dong bicaranya, kita tidak ngerti", celoteh Usi

"Iya... pak tolong yang jelas dong pak", desak Kirana

Dengan senyum, "Baik... Baik... karin itu, kangen rindu dan meriang itu, merindukan kasih sayang" jelas Sinten

"Kayak lagu saja", canda Usi

"Ya... Bukankah itu yang Kirana rasakan", jelasnya.

"Jadi perasaan ini perasaan rindu, siapa yang tidak rindu dengan orang sebaik Kak Nasua", batin Kirana

"Lalu yang dirasakan Kirana itu apa, masalahnya dia itu cowok", ucap Usi

"Wajar kok, apa dia orang pertama yang memperhatikan kamu begitu Kirana?!" ucap Sinten

Kirana mengangguk.

"Ini love first alias cinta pertama, biasanya cinta pertama itu datangnya dimasa remaja ini", jelas Sinten.

"Oh cinta pertama ya pak, terus banyak juga yang dekat dengan orang ini, dia itu baik banget, apalagi perempuan, curhat mereka didengar bahkan dibantu seperti Kirana" jelas Usi


* * *

Mendengar itu Kirana menahan kesal, Sinten dan Usi melirik Kirana.

"Wah... Bapak jadi penasaran dengan orangnya"

Kembali melirik Kirana menahan kesal, gelagat itu itu terlihat aneh dimata Usi.


"Woi...",menepuk pundak Kirana.

Ia kaget, "Ah Usi... Buat kaget saja"

"Habisnya benggong mikir apaan sih?!"

"Kamu kesel ya Kirana?" tanya Sinten.

"Ya dikit pak"

Ia pun senyum-senyum.

"Kamu cemburu ya..." goda Sinten

"Cemburu apaan?" tanyanya.

"Cemburu itu kamu itu tidak suka seseorang ini dekat dengan perempuan lain"

"Turus bedanya? Kesel digangguin dengan kesel kalau seseorang yang dicintai itu dekat perempuan lain, beda ya pak?", tanya Usi

"Betul lah, kalau digangguin kesalnya berani balas, kalau cemburu tidak berani, biasanya kalau pacaran ya... gemes, curiga atau nangis. Cemburu itu biasanya dada sesak kayak asma tapi bukan, diperiksa tidak asma" jelas Sinten

"Pacaran tuh apa pak?" tanya Kirana

"Hubungan dua orang beda gender melebihi pertemanan. Intinya kamu bisa nonton film, kurang lebih begitu, tapi tiap pasangan menjalaninya itu berbeda tergantung situasi"

Telepon berdering.

"Halo...", ucap Sinten, setelah diam beberapa saat. "Ya pak nanti saya sampaikan", ucap Sinten.

"Siapa pak?" tanya Usi

"Pak Tena, ayahnya Kirana" jelasnya

Kirana berubah raut jadi panik.

Lihat selengkapnya