Sinar-Sinar Cinta

Novia dewi
Chapter #8

Bersama Cahaya

Mereka ke ruang tamu, baju itu akan memberi perubahan baru, sesuatu yang paling diharapkan. Seperti sinar yang telah ditunggu sepanjang hidup

"Nih... Kamu ganti dulu Kirana"

Kirana mengambilnya lalu ke kamar, menuju ke kamar Usi. Tidak lama datang Nasua.

Usi tersenyum lebar, "Wah pas banget nih kak, pakaian ini buat kakak"

"Kakak kan sudah pakai pakaian rumah. Kok dikasih lagi? Lagian di rumah kakak ada banyak"

"Ya, aku tahu kemarin kakakku kan ngasih banyak. Tapi bekas semua. Ini pakaian baru kak. Diskonan kemarin model cowok. Lagian warnanya aku tidak suka. Kakak ambil ya. Setidak-tidaknya ada pakaian baru untuk kakak", bujuk Usi.

"Baiklah"

"Kakak akan ganti sekarang. Lagian ini pakaiannya sudah bau keringat"

Usi memberi tawaran, "Eh ya... ke dapur ya... makan"

"Ya...."

Lalu keluarlah Kirana.

"Ini kan bagus...", ucap Usi

"Kak Nasua mana? Kok tidak kelihatan?", tanya Kirana

"Wah... dia pulang tuh... Memang kenapa Kirana kangen ya..." godanya

"Mulai deh mulai... Tidak lucu tahu", ucapnya jengkel

"Meriang nih...."

"Aku tidak sakit ngapain meriang", ucapnya ketus

"Karin..."

"Bukan! Sku Kirana! Bukan Karin!"

"Kangen rindu, ayo ngaku...", desaknya

"Ih... Sok tahu...!"

"Ih kesel, berarti benar kan?!"

"Usi...!"

Tanpa sengaja Nasua ada di belakang pintu masuk. Usi membentuk jari mirip telepon.

"Halo kak Nasua, dimana nih... ada yang meriang alas merindukan kasih sayang sama Karin juga. Kangen rindu gitu... Sini dong kak, obatin Kirana yang lagi love sick...", godanya

Nasua tercengang di balik pintu.

"Usi... berhenti tidak! Atau sepatu ini melayang", gertaknya

"Kok marah sih, kalau tidak benar ngapain marah. Ayo ngaku... Benar kan ?", desaknya

"Kalau ya, kenapa kamu cemburu", ucapnya ketus

"Tidak, cuma mau memastikan. Love first nih... Kak Nasua sini dong, obatin sakit Kirana biar cepat sembuh..."

"Masalah buatmu...!", sambil jalan cepat

Usi segera berlari, mereka kejar-kejaran di ruangan itu.

"Awas kamu Usi...", teriak Kirana

"Coba saja kalau bisa"

Nasua terpaku di balik pintu, mendengarkan seluruh ucapan mereka.


* * *

Ia mulai melamun, bersandar pada pintu, melipat tangan di dada.

"Jadi itu benar, tapi..."

Suasana pecah ketika ada barang jatuh. Bergegas ia membuka pintu. Bantal dan sejumblah buku berserakan.

Usi yang tengah berlari menyadari Nasua masuk dengan sigap menghindar. Kirana menyandung bantal yang nyangkut di kaki sofa, Kirana yaris tersungkur. Dengan sigap di raih dan menggesernya ke arah lain. Mereka pun saling bertatapan.

Rasa deg-degan seketika muncul. Lalu Kirana diturunkan. Nasua memalingkan pandangan.

"Ya Tuhan... tempat apa ini...!"

Melirik tajam mereka, di posisi berbeda.

"Untuk yang satu ini bukan urusan kakak, kalian yang berantakan!"

Mereka terkejut. Ia menghentakkan kaki. "Bengong lagi, buruan!"

Mereka melakukannya, terbesit ide untuk menguji.

"Kalau memang benar begitu akan aku tes", pikirnya

"Aduh lama banget, buruan!"

"Jadi ini kalau dia marah", pikir Kirana

Ia mempercepat kerjanya. Membereskan lebih banyak dari Usi. Setelah beres mereka tumpuk.

Usi dengan segera duduk bersandar di sofa. Sedangkan Kirana masih berdiri.

"Kalau ini, bisa tidak bercandanya tidak berlebihan begitu. Kalau kenapa-kenapa orang tua kalian yang susah. Kalian ini bukan anak-anak lagi. Yang tadi itu berbahaya, coba pikir deh!", oceh Nasua

"Iya... Maaf, lain kali tidak lagi", ucap Usi sambil mengipaskan buku tulis ke wajah

Kirana mencoba menahan air mata tetapi tidak bisa, "Kenapa aku menitikkan air mata. Padahal marahnya ayah yang lebih kasar ini, tidak membuat air mataku jatuh. Tapi kenapa? Kenapa yang ini tidak bisa", batinnya

Nasua menghela nafas, "Maaf kalau marah-marah tapi tadi itu berbahaya", ucapnya lembut

Kirana terisak, dengan segera Usi mendudukkannya, lalu Nasua duduk di sebelah Kirana.

"Maafkan kakak, tapi ini demi kebaikan kalian. Kakak tidak mau ada apa-apa dengan kalian", raut bersalah

"Ya kak, aku tahu", ucap Usi

Namun air mata Kirana belum mau berhenti.

"Maafkan kakak Kirana"

Lalu mengelus kepalanya dalam keadaan duduk, seikranya mengurangi rasa sedihnya.


Ia merasa bersalah karena itu.

"Maafkan kakak Kirana, kakak tidak mau kamu kenapa-kenapa. Kakak sangat sayang kamu. Tolong jangan nangis"

Lihat selengkapnya