Hari berganti, upacara tiba dan akhirnya, dari pengumuman kelas 3 lulus. Kini Kirana dan seangkatan naik kelas tiga, ini adalah hari baru untuk mencapai hal baru.
Tampak Kirana begitu bahagia. "Akhirnya, kenaikan kelas ini nilaiku meningkat dan kemarin aku mendapatkan seseorang yang aku dambakan, Kak Naswa. Cintaku, hidupku, pokoknya dia segalanya," batinnya sambil menatap rapor.
Tena berkata tegas, "Sudah, sekarang mana!"
Lalu Kirana kembalikan.
"Mari awasi dia!" ucap Tena
"Siap ayah," ucap Marli
Seketika wajah berseri-seri berubah kecut. Usi memegang pundaknya, lalu dilirik. Tatapannya memberi isyarat agar ia sabar.
"Oh ya Usi, kita kembali nanti tempat duduknya diambil," ucap Kirana
"Eh iya.. ayo"
Mereka segera berlari. Marli menyusul namun kalah cepat. Mereka masuk kerumunan murid, yang saat ramai, yang tengah menampilkan salah satu musisi terkenal.
"Ih... mereka kesana... tapi sudah lah lagi pula tempatnya penuh sesak jadi mereka pasti terjebak disana" pikir Marli
Didalam kerumunan itu. "Kirana ayo... sebelum mulai kita harus keluar dari sini!" ucap Usi
Mereka terus mencari celah agar bisa lewat disamping panggung. Setelah cukup lama akhirnya mereka berhasil dan ada di belakang panggung.
"Akhirnya..." ucap mereka, lalu tos
Acara mulai, hiruk pikuk terdengar, Sura jelas ikut melantunkan lagu.
"Ih... berisik sekali, ayo... kita ke tempat sepi," ucap Usi
"Ayo..."
Mereka bergegas, terus menyusuri emperan dan tembus disebelah ruang guru. Musik jelas terdengar, namun tidak menyakiti telinga mereka. Mereka duduk di emperan itu.
"Kirana... aku lihat kamu senang banget, lihat nilai yang bagus atau yang lain...?" ucap Usi
"Ah... sok... tahu..." jawabnya" "Ya... lah... tidak biasanya aku lihat sesenang itu"
"Ingat Kak Nasua ya...?" godanya
"Kalau iya... kenapa...? Kamu cemburu...?" balasnya
Sehentak Usi tertawa. "Ah kamu... iya tidak lah... dia itu sudah seperti kakakku"
Senyum-senyum, memandang Kirana. "Oh... cinta pertama dan pacar pertama pasti akan selalu terbayang, oh... cinta... love you baby..." ucapnya mengekspresikan.
Kirana memandang, raut muka tembok, Usi nyengir kuda.
Kirana membalas, guyonan dimulai hingga membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Merasa nafas ngos-ngosan mereka berhenti. Setelah nafas normal.
"Eh... tapi apa kamu tidak menyesal nanti, kamu tahu kan Kak Nasua secara ekonomi dia itu bukan orang kaya?" ucap Usi
Kirana diam cukup lama.
"Kenapa kamu tanya itu Usi? Dia... memang miskin uang, tapi hatinya kaya. Lalu ada yang kaya uang tapi miskin hati, apa bedanya, kata ibu miskin uang masih bisa diisi tapi miskin hati sulit untuk diisi. Karena kemiskinan hati itu adalah yang paling parah," jelas Kirana
Usi terdiam, memperhatikan secara seksama
"Mungkin kamu berpikir Usi, kalau seandainya aku benar-benar jadi dengan Kak Nasua dan tinggalkan kenyamanan fasilitas ayah, apa jadinya aku, ya... aku memahami zaman sekarang hidup itu tidak akan kenyang dengan cinta, tapi cinta itu rasa Usi," jelasnya panjang
"Ya aku tahu aku cuma mau memastikan saja Kirana, jangan salah paham soal itu"
"Tidak Usi, saat ini mungkin dia tidak punya, tapi suatu saat setelah semua terbebas dari belenggu pendidikan, pastinya kerja dan punya hasil. Harus optimis yang tidak mungkin ini menjadi mungkin. Orang-orang hebat dengan ini pasti mengalami hal sulit, setelah berhasil mau memaknai semua dan jadi hebat ya... seperti Presiden kita," ucap Kirana
Mendengar itu ia tidak bisa berkata lagi. Kalamatnya terlalu dewasa, ia hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya. Setelah cukup lama mereka berpindah tempat.
Mereka naik ke lantai dua. Disana pemandangan sekolah dan luar sekolah terutama areal perbukitan.
Mendung yang tidak rata membuat sinar matahari terpecah seperti celah-celah sinar. Semilir angin berhembus menerpa.
"Alam mengisyaratkan apa lagi?" batin Kirana
Ia memandang perbukitan yang kena sinar tidak rata. "Sinar matahari itu seperti bertata sebuah pancaran sinar cinta, seperti sinar-sinar cinta yang mengharap restu agar menjadi kesatuan sinar. Mendung itu ibarat penghalang," pikirnya.
Ia memejamkan mata beberapa saat, perlahan mendung menyingkir terpaan sinar matahari menyinari semua. Ia pun membuka mata. Luasan perbukitan kini nampak jelas.
"Ya... seperti ini, bukan sinar-sinar kecil, tapi sinar seluruhnya yang mampu menerangi semua. Agar semua tahu bahwa apa yang terjalin tersembunyi sesungguhnya sebuah kesatuan," batinnya
* * *
Disisi lain, Nasua di SMA itu sudah selesai melakukan kegiatan pembersihan. Seperti biasa ia dan sejumlah teman-teman, bersenda gurauan dan canda tawa terdengar. Ia tampak termenung.
"Woi..." tegur Rendi
Nasua menoleh.
"Kenapa? Ada masalah? Kita lihat kamu tuh bengong saja," ucapnya
"Tidak, aku tidak ada masalah, cuma ada yang sedang aku pikirkan," ucap Nasua
"Cewek?" ucap Rendi
"Kurang tepat Ren"
"Terus apa dong sampai kayak gitu... aku jadi ingat tampang kamu tadi tuh kayak orang yang mau dinikahkan," ucapnya sengengsan
Tanpa sadar ada yang berdiri disamping mereka.
"Siapa yang nikah?" tanya seseorang
Semua menoleh.
"Eh... pak Erwin..." ucap merek
"Wah kebetulan sekali bapak kesini, ada yang mau saya tanyakan," ucap Nasua
Lalu lekasi itu duduk. "Mau tanya soal apa Nasua?"
"Em... begini, kemarin saya tuh diajak nonton Film," ucapnya
"Sama cewek ya..." ucap Rendi. "Hus... ngaco..." ucapnya sembari mendorongya.
Rendi bergeser sedikit dari posisi duduk.
"Bukan pak, yang mau saya tanya itu. Isi Film yang kayak gini, em... ada seorang sahabat yang tidak tega melihat sahabatnya itu pisah sama pacarnya, orang ini keturunan Pendeta, dia tahu mantra dan cara menikahkannya. Kayak India gitu sepasang kekasih itu mengitari api. Setelah selesai diminta rambut masing-masing tiga helai. Setelah dibuang ke api mendadak membesar dan perlahan mereka seiring habisnya kayu. Katanya tanda restu alam. Tapi yang tahu itu kan cuma mereka bertiga dan yang melakukan upacara itu belum resmi jadi Pendeta," jelasnya mendetail
"Apa itu dosa dan tidak sah ya... walau Film, saya cuma mau tahu bolehkah begitu atau tidak sebenarnya?" ucap Nasua