Sinar-Sinar Cinta

Novia dewi
Chapter #10

Mencoba Tumbuh

Tena beranjak ke kamar Kirana. secara hati-hati ia membuka pintu, pelan-pelania melangkah dan mengambil buku muh kultura itu. Kirana menyadari hal itu, namunia tampak masih tidur. Setelah keluar dan menutup pintu, Kirana bangun.

"Ayah ngapain ngambil buku itu?" tanya batinnya

Lalu mengambil Foto Nasua ditempat rahasia

Ia memandang foto itu, "Baru lewat beberapa hari, rasanya puluhan tahun tidak bertemu, setiap saat aku selalu merindukan kakak. bukan senyum manis dan wajah rupawan itu, tapi ketulusan yang kakak berikan, sampai mati pun aku tidak akan lupa," batinnya

"Kakak telah mengajariku cara hidup dan mengetahui betapa luasnya dunia ini," batinnya lagi

"Kita telah berjanji, apa pun yang terjadi akan tetap bersama dan menjaga percintaan ini, aku tidak mau yang lain, aku cuma mau kakak saja, cuma kakak dan akan selalu begitu!" batinnya


Tanpa diketahui, di jalan depan rumah itu, ada seseorang yang melintas dengan motor tua, ia berhenti didepan rumah besar itu, lalu membuka helm, ternyata itu Nasua.

"Besar sekali rumah Kirana, memang benar dia orang kaya. berbeda jauh denganku, yang tinggal di rumah tua yang hampir roboh, sekali tahu ini aku jadi merasa tidak pantas bersanding dengan Kirana, apa kata keluarganya nanti," batin Nasua

Teringat ia akan janjinya, "Aku telah katakan tidak akan meninggalkannya apa pun yang terjadi, Kirana tidak masalah dengan keadaanku, tapi keluarganya aku tidak tahu," merasa kecil

"Sekarang inilah kenyataannya, tapi aku harap nanti kenyataan akan sesuai dengan harapan," pikirnya.

"Kirana.... bersabarlah aku akan mengusahakan agar impian kita bersama dapat terwujud dan semua menerima baik kita terutama keluargamu," doa batinnya

Lalu mengenakan helm dan menyalakan motor, saat yang sama Kirana membuka gorden jendela, saat itu juga Nasua telah melaju.


Kirana menghela nafas memandang keluar jendela, siang itu kebetulan segumblan bocah kecil sembari bercanda.

"Menyenangkan sekali mereka, bisa dapat main, kapan aku bisa seperti mereka? Tuhan... sadarkanlah segera ayahku...," ucap hatinya


* * *


Kirana lepaskan semua beban dengan pernafasan, setelah merasa lebih baik ia beranjak untuk makan siang, diruang tamu Tena telah menunggu.

"Kirana cepat makan," ucap Tena Kirana mendekat.

"Ada apa ayah?" tanya Kirana

"Duduk ayah mau bicara," ucapnya serius

Ia melakukannya.

"Siapa yang ngasih ini?"

"Usi, aku minta pinjam."

"Setelah kamu tahu isi buku ini, kamu mau apa?" tanya Tena tegas

"Kalau ayah ngasih izin aku mau praktekkan, membibit tanaman sesuai cara buku itu."

"Lalu"

"Setelah bibit tumbuh aku mau tanam, biar berbuah terus dijual."

"Mau praktek dimana?"

"Kalau boleh di ladang dan sawah peninggalan kakek, rencanya mau ditanami cabai, tomat, sayur kacang, jagung," terpotong


Tena menatap tajam Kirana. Ia pun berhenti bicara dan menundukkan kepala. Kejadian itu diketahui Marli di pegangan tangga, mumur itu.

"Mau bicara apa lagi kamu!" batin Marli.

"Kenapa berhenti!"

"Ayah... ayah... aku mau menjelaskan aku tidak berani, jadi... jadi aku diam, ayah... ayah... tidak setuju kan tidak apa-apa, aku cuma cuma ingin tahu," ucapnya ketakutan

"Sekarang kamu mau apa !"

Kirana terkesiap ketakutan.

"Eh jawab mau kamu apa!"

"Em... em...." ucapnya ragu dan takut.

"Cepat jawab, yang jelas! Mau kamu apa!" bentaknya

Mata menatap tajam,"Mau kamu apa?"

"Mau praktek yah," sahutnya ketakutan

"Dimana?"

"Ditanah warisan Kakek."

"Kapan?"

"Liburan ini."

"Dari tadi kek, lama sekali !"

Raut muka tidak terlalu tegang

"Ayah akan kasih tapi cuma bertani, ayah tidak suka kegagalan, kamu harus berhasil, ayah tahu bertanidan membangun itu beda. Membangun hasil kerjanya sudah pasti, kalau bertani berbeda, ayah tidak mau tahu hasilnya harus sesuai bahkan lebih."

Kirana gemetar bicara, "Tapi kacang jongkok itu perlu waktu dua bulan bahkan lebih untuk panen," ucapnya.


Ia menatap tajam, "Lalu kapan mau beli bibitnya?"

"Ya kalau boleh hari ini, aku sudah sisihkan uang jajan buat beli bibit, jadi ayah tidak usah pikirkan," ucap Kirana

"Lalu ongkos traktor, pupuk dan ongkos tanam apa sudah ada."

"Belum, rencanya sediki demi sedikit dulu," ucap Kirana

Lalu buku itu dibanting, ia kaget setengah mati.


Marli disana menahan tawa karena kejadian itu.

"Sedikit-sedikit lama! Yang

banyak biar jelas hasilnya!"

"Nih modal," menaruh segepok uang diatas meja

"Itu semua sepuluh juta, kamu atur uang itu, ingat ini pinjaman! Kamu harus kembalikan modal ini, kamu harus untung setidaknya seperempat dari hasil panen, kamu paham!"

"Ya.. ayah aku berharap tidak gagal, tapi kalau gagal aku kembalikan uangnya pakai apa?"

"Kamu jadi pembantu kuli liburan sekolah tahun depan tanpa gaji!" tegasnya lalu pergi

"Huh...," ia menghela nafas, lalu mengambil uang dan buku itu.

"Pokoknya harus berhasil modal balik, keuntungan dapat penuh, harus berhasil!" tekad hatinya

Tuhan... Kabulkanlah doaku," batinnya

Tampak tekad terukir dibenaknya, dan raut wajah wajah penuh keyakinan terlihat, yang satu itu adalah raut wajah yang dibenci Marli.

Marli memandang Kirana geram saat lewat disebelahnya, Kirana melempar senyum keyakinan lalu melangkah lagi.

"Cihh... lihat mukamu itu buat eneg! Aku sumpahin kamu gagal, biar rasain nanti hidupmu itu tersiksa lebih parah, malahan didukung, hati ayah luluh, ahhh... payah!" gerutu hati Marli sambil menghantam pegangan tangga dengan kepala tangan.


* * *


Segala keperluan untuk bertani telah ia siapkan, besoknya ia kesana dengan dibantu penjaga lahan, ia melakukan kegiatan tanam. Walau terik matahari menyengat ia tetap bekerja.

"Akan aku buktikan kalau aku bisa, aku harus berhasil, biar ayah tidak memandang aku remeh dan aku harus buat bangga kak Nasua!" batinnya


Sedangkan Nasua, di sebuah toko yang tengah merapikan gudang penyimpanan, tampak penuh semangat bekerja.

"Aku harus punya pegangan, kerja apa pun asal pekerjaan baik akan aku lakukan, aku harus bisa membiayai ibu sampai sembuh dan bisa membuat bangga Kirana dengan prestasi dan hasil kerja yang aku dapatkan," tekad Nasua.

Waktu berlalu, bibit telah tumbuh dan telah ditanam, sisa dari modal menanam sayuran ia simpan. Pemantauan secara keseluruhan untuk diketahui berapa hasil yang didapat selama sebulan.

Lihat selengkapnya